Thursday, March 4, 2021

Pencegahana kawin berulang skala Peternak.

Pencegahana kawin berulang skala Peternak.

Repeat Breeder atau kawin berulang merupakan suatu kondisi sapi yang di kawin kan 3 kali berturut-turut dan tidak bunting, dengan siklus estrus normal. Siklus estrus pada sapi berlangsung selama 18-24 hari. Kawin berulang pada sapi dapat merugikan peternak secara ekonomi. Pada industri sapi perah dapat mengakibatkan penurunan produksi susu. Pada sapi breeding atau pembibitan akan panjang calving Interval / jarak beranak pertama ke beranak berikutnya.



Kawin barulang pada sapi dapat mengakibatkan kerugian dari segi makanan dan biaya pemeliharaan. Pencegahan yang tepat akan memberikan manfaat bagi usaha peternakan . Berikut tips Pencegahan kawin berulang pada sapi 




1. Berikan Anticacing/ anthelmintik rutin.

Anthelmintik pada sapi harus rutin diberikan pada ternak ,umumnya diberikan 3 bulan sekali . Hal ini untuk program pengendalian infestasi cacing pada sapi.  Sapi yang terkena cacingan akan kekurangan nutrisi dan tentunya akan menurunka performa reproduksi sapi.

2. Pakan yang seimbang 

Hijauan pakan ternak pada sapi diberikan 10% dari berat badan, dan konsentrat diberikan 1-2% dari berat badan sapi. Pemberian konsentrat 1-2 jam sebelum pemeberian hijauan pakan ternak. Selain pakan tersebut sapi harus diberikan mineral dan vitamin tambahan dalam pakan ternak. 

3. Manajemen Pengamatan Estrus.

Pengamatan birahi pada sapi dilakukan 3-4 kali dalam 24 jam, dnegan lama durasi pengamatan 30 menit. Sapi yang birahi akan mengeluarkan tanda - tanda seperti. Vulva membengkak, merah, hangat dan keluar lendir putih bening dari kemaluannya serta standing heat atau diam ketika dinaiki. Puncak dari birahi sapi diam dinaiki dan ini adalah waktu terbaik sapi di kawinkan. Perkawinan baik dengan kawin suntik / IB atau dengan kawin alam sudah bisa dilakukan ketika sapi muncul birahi 



Penulis .

Drh. Khairul Rizal

Wednesday, March 3, 2021

CLP Pada Sapi dan Penanggulangannya

CORPUS LUTEUM PERSISTEN PERSISTEN SAPI.



Setelah sapi melahirkan, sapi akan mengalami involusi uterus. Involusi uterus ini merupakan proses kembalinya uterus ke posisi semula, baik dari ukuran, maupun secara fisiologisnya. Involusi uterus pada sapi berlangsung 25-36 hari, Selama masala involusi uteri ini biasa sapi tidak mengalami birahi atau estrus, atau yang dikenal dengan anestrus post partum dan ini merupakan suatu kondisi yang normal 

Corpus Lutein persisten dapat terjadi pada waktu setelah sapi melahirkan . Hal ini terjadi dikarenakan involusi uterus yang diperlambat, biasa pada sapi perah yang mempunya produksi susu tinggi. Pada sapi perah dengan produksi susu tinggi,kadar hormon LTH (luteotropik hormone) yang tinggi akan menghambat lisisnya Corpus luteum graviditatum. Pada sapi perah bisa berlangsung CLP 30-90 hari. Pada kondisi ini akan merugikan Peternak dari segi calving Interval yang diperpanjang dan bunting kembali sapi pasca melahirkan.

Gejala klinis 

Sapi yang mengalami CLP gejala utamanya adalah anestrus /sapi tidak birahi dalam jangka waktu lama. Bila CLP terjadi pada sapi setelah Melahirkan sapi tidak mengalami estrus lebih dari 90 hari pasca partus. Pada sapi yang mengalami kematian Embrio, siklus birahi sapi diperpanjang 90-120 hari.  

Dianogsa.

Peneguhan dianogsa kasus CLP dapat dilakukan dengan palpasi dan eksplorasi Perektal dan USG.

Penanganan.

Peternak yang mengetahui sapi tidak mengalami estrus dalam jangka waktu yang lama, disarankan segera  menghubungi dokter hewan untuk pengobatan lanjutan. Peternak harus memberikan nutrisi yang cukup, vitamin dan mineral/ premiks diberikan setiap hari dalam pakan. 

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan Peternak agar sapi tidak mengalami CLP antara lain :

1.  Sapi yang baru melahirkan maksimal 24 jam setelah melahirkan harus mendapatkan treatment /terapi post partum. Treatment dilakukan oleh dokter hewan/ petugas kesehatan hewan setempat. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi rahim setelah melahirkan.

2. Nutrisi seimbang 

Peternak harus memberikan nutrisi Nyang baik untuk ternaknya. Hijauan diberikan 10 % dari berat badan, konsentrat 1-2 % dari berat badan. Peternak memberikan mineral dalam pakan ternak setiap harinya . Hal ini diperlukan untuk memaksimalkan performans Reproduksi.

3. Anticacing/anthelmintik Rutin.

Anthelmintik diberikan pada ternak sapi secara rutin yaitu setiap 3 bulan sekali. 

Demikian tulisan ini, semoga bisa memberikan informasi yang bermanfaat untuk masyarakat luas Khususnya Peternak sapi Indonesia 


Drh. Khairul Rizal.

Tuesday, March 2, 2021

Stop menyembelih ruminansia produktif, ini ancaman bagi yang melanggarnya

Stop menyembelih ruminansia produktif, ini ancaman bagi yang melanggarnya




Ruminansia adalah hewan yang memamahbiak, dimana untuk mencerna makanannya hewan ini memiliki 4 lambung yaitu rumen, retikulum ,omasum dan abomasum. Ruminansia dibedakan menjadi ruminansia besar dan ruminansia kecil. Ruminansia besar seperti sapi dan kerbau, sedangkan ruminansia kecil yaitu kambing, dan domba.

Sapi adalah salah satu penghasil protein hewani terbesar di dunia. Semakin bertambah populasi penduduk ,maka semakin banyak akan kebutuhan dari protein hewani. Untuk menunjang kebutuhan protein hewani agar tersedia dan mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan  mengeluarkan kebijakan UPSUS SIWAB (Upaya kusus sapi indukan wajib Bunting) yang sekarang berganti menjadi SIKOMANDAN (Sapi kerbau komunitas andalan negeri).

Untuk mendukung program tersebut, masyarakat dilarang untuk melakukan penyembelihan ruminansia produktif. Undang-undang No. 41 tahun 2014. Tentang Peternakan dan kesehatan hewan memberikan sanksi berupa denda da kurungan penjara bagi yang melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut yaitu :

Setiap orang yang menyembelih.

 a.Ternak ruminansia betina kecil produktif

dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1(satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan pidana denda paling sedikit Rp1.OO0.000,OO (satu juta rupiah  danpaling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah; atau

b. Ternak ruminansia besar betina produktif

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dand paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah dan paling banyak Rp300.000.000,00 (tigaratus juta rupiah).

Mengingat besar denda tersebut masyarakat diharapkan tidak ada yang melanggar, sehingga populasi betina produktif terus meningkat. Peningkatan populasi Betina produktif tentu akan meningkatkan angka kebuntingan dan kelahiran ternak. Sejalan dengan hal tersebut akan terjadi peningkatan daging dan susu . 


Penulis 

Drh. Khairul Rizal 

Medik Veteriner 

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Siak Riau



Monday, March 1, 2021

Pencegahan Jembrana Pada Sapi Bali

 Pencegahan Jembrana Pada Sapi Bali

        Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral yang bersifat menular pada sapi Bali. Penyakit Jembrana disebabkan oleh Retrovirus, dari anggota group lentivirus yang unik dan disebut Jembrana disease virus (JDV).  Masa inkubasi berkisar antara 4-7 hari yang diikuti dengan munculnya demam hingga mencapai 41o- 42o C yang berlangsung hingga 5 -12 hari (rata2 7 hari).

Gejala klinis penyakit jembrana pada sapi bali antara lain; 

1. Demam berkisar 41- 42 C 

2. Stomatitis ditandai dengan radang mulut ulseratif , sehingga hewan akan hipersalivasi atau keluar air liur yang berlebihan.

3. Pembesaran limpoglandula 

4. Keringat darah

https://youtu.be/hZc1iB0yFv8

                                          

        Pencegahan dan pengendalian penyakit jembrana adalah dengan cara melakukan vaksinansi jembrana rutin pada sapi bali dan dilakukan pengendalian vektor lalat , caplak pada sapi . vektor tersebut berperan penting dalam perpindahan virus antar ternak. Setiap ternak yang akan masuk kesuatu wilayah harus memiliki surat keterangan kesehatan hewan. 





Sunday, February 28, 2021

INSEMINASI BUATAN

 INSEMINASI BUATAN


Inseminasi Buatan / IB adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoon. Potensi terpendam yang dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik, apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak betina (Hafez, 1993).



Hasil Inseminasi Buatan pada peternak kecamatan Tualang Siak Riau

Namun dalam perkembangan lebih lanjut, program IB tidak hanya mencakup pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi betina, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan/ternak betina, bimbingan dan penyuluhan pada peternak. Dengan demikian pengertian IB menjadi lebih luas yang mencakup aspek reproduksi dan pemuliaan, sehingga istilahnya menjadi artificial breeding (perkawinan buatan). Tujuan dari IB itu sendiri adalah sebagai satu alat yang ampuh yang diciptakan manusia untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak secara kuantitatif dan kualitatif (Toelihere, 1985).

            Pelaksanaan teknik inseminasi buatan pada hewan mamalia merupakan perakitan beberapa teknologi yaitu teknologi penampungan semen dan penanganannya (Frandon, 1992).

            Aplikasi IB memiliki keuntungan dan kerugiannya. Keuntungan IB diantaranya menghemat biaya pemeliharaan pejantan, mencegah terjadinya kawin sedarah, dapat mengatur jarak kelahiran ternak, semen beku dapat tahan beberapa tahun kemudian dan menghindari penularan penyakit kelamin (Salisbury dan Demark, 1985).


DAFTAR PUSTAKA

 

Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hafez, E.S.E. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction in

Farm Animals. 6th Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. pp. 424-439.

 

Salisbury, G.W dan Van Demark N. L.. 1985. Fisiologi Reproduksi dan IB pada sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Toelihere, M.R. 1985. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Universitas Indonesia.