Langsung ke konten utama

CLP Pada Sapi dan Penanggulangannya

CORPUS LUTEUM PERSISTEN PERSISTEN SAPI.



Setelah sapi melahirkan, sapi akan mengalami involusi uterus. Involusi uterus ini merupakan proses kembalinya uterus ke posisi semula, baik dari ukuran, maupun secara fisiologisnya. Involusi uterus pada sapi berlangsung 25-36 hari, Selama masala involusi uteri ini biasa sapi tidak mengalami birahi atau estrus, atau yang dikenal dengan anestrus post partum dan ini merupakan suatu kondisi yang normal 

Corpus Lutein persisten dapat terjadi pada waktu setelah sapi melahirkan . Hal ini terjadi dikarenakan involusi uterus yang diperlambat, biasa pada sapi perah yang mempunya produksi susu tinggi. Pada sapi perah dengan produksi susu tinggi,kadar hormon LTH (luteotropik hormone) yang tinggi akan menghambat lisisnya Corpus luteum graviditatum. Pada sapi perah bisa berlangsung CLP 30-90 hari. Pada kondisi ini akan merugikan Peternak dari segi calving Interval yang diperpanjang dan bunting kembali sapi pasca melahirkan.

Gejala klinis 

Sapi yang mengalami CLP gejala utamanya adalah anestrus /sapi tidak birahi dalam jangka waktu lama. Bila CLP terjadi pada sapi setelah Melahirkan sapi tidak mengalami estrus lebih dari 90 hari pasca partus. Pada sapi yang mengalami kematian Embrio, siklus birahi sapi diperpanjang 90-120 hari.  

Dianogsa.

Peneguhan dianogsa kasus CLP dapat dilakukan dengan palpasi dan eksplorasi Perektal dan USG.

Penanganan.

Peternak yang mengetahui sapi tidak mengalami estrus dalam jangka waktu yang lama, disarankan segera  menghubungi dokter hewan untuk pengobatan lanjutan. Peternak harus memberikan nutrisi yang cukup, vitamin dan mineral/ premiks diberikan setiap hari dalam pakan. 

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan Peternak agar sapi tidak mengalami CLP antara lain :

1.  Sapi yang baru melahirkan maksimal 24 jam setelah melahirkan harus mendapatkan treatment /terapi post partum. Treatment dilakukan oleh dokter hewan/ petugas kesehatan hewan setempat. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi rahim setelah melahirkan.

2. Nutrisi seimbang 

Peternak harus memberikan nutrisi Nyang baik untuk ternaknya. Hijauan diberikan 10 % dari berat badan, konsentrat 1-2 % dari berat badan. Peternak memberikan mineral dalam pakan ternak setiap harinya . Hal ini diperlukan untuk memaksimalkan performans Reproduksi.

3. Anticacing/anthelmintik Rutin.

Anthelmintik diberikan pada ternak sapi secara rutin yaitu setiap 3 bulan sekali. 

Demikian tulisan ini, semoga bisa memberikan informasi yang bermanfaat untuk masyarakat luas Khususnya Peternak sapi Indonesia 


Drh. Khairul Rizal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampaPencegahannya

  Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampai Pencegahannya Leukositozoonosis merupakan penyakit protozoa yang menyerang darah ternak unggas, yang disebabkan oleh parasit Leucocytozoon sp. (Levine, 1985). Spesies Leucocytozoon yang menyerang ayam di Indonesia teridentifikasi Leucocytozoon caulleryi dan L.sabrazesi (Soekardono, 1983; Soekardono dan Partosoedjono, 1986). L. caulleryi disebarkan oleh vektor Culicoides arakawae (Soekardono, 1987). Kejadian Leucocytozoonosis cenderung bersifat musiman yang berhubungan erat dengan peningkatan populasi vektor serangga, terutama pada pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya (Tabbu, 2002). Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat tinggi, pada unggas muda menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Unggas dewasa juga bisa terinfeksi dengan menimbulkan gejala diare, lemah, penurunan produksi, penurunan daya tetas telur, bahkan bisa menimbulkan kematian.   Jenis unggas yang rentan terhadap penyakit Leucocytozoo...

Diare pada Pedet dan Penangannya

   Diare pada Pedet dan Penangannya Pedet merupakan sapi yang masih berumur 1-8 bulan. Pada rentangan umur tersebut, pedet mulai memasuki fase percepatan pertumbuhan, dimana pada fase ini sapi akan tumbuh dengan maksimal apabila didukung oleh pakan yang baik dan sesuai kebutuhan, lingkungan yang mendukung serta manajemen pemeliharaan yang baik (Tazkia, 2008). Penanganan yang tepat pada pedet maupun sapi muda akan menghasilkan sapi potong berkualitas baik pada ternak jantan maupun betina (Efend y dkk. , 2013). Penanganan pedet mulai dari lahir sangat diperlukan agar nantinya bisa mendapatkan sapi yang mempunyai produktivitas tinggi untuk menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Penanganan kesehatan perlu diperhatikan dengan baik, mengingat angka kematian pedet yang cukup tinggi pada empat bulan pertama setelah pedet lahir. Di daerah tropis, rata – rata persentase kematian pedet dibawah umur tiga bulan mencapai 20% bahkan bi...

Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera

  Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera. Delapan belas hari sudah berlalu di Jawa Barat, saatnya kembali ke bumi Lancang Kuning. Hari terakhir di Jawa Barat saya manfaatkan mengunjungi Sabahat di Bekasi.  ( Cerita mengenai terpilihnya menjadi peserta satu-satunya dari provinsi riau  untuk mengikuti bimbingan teknis tranfer embrio di Balai Embrio Ternak Cipelang 2019 akan diceritakan pada tulisan lainnya. )  Ini saatnya saya kembali ke rutinitas biasa mengabdi untuk negeri melalui salah satu profesi yang mulia di bumi ini, profesi dokter hewan.   Menurut data dari WHO yaitu organisasi kesehatan Dunia bahwa 70% penyakit manusia berasal dari hewan atau yang dikenal dengan Zoonosis. Dokter Hewan , kami memiliki motto "Manusya Mriga Satwa Sewaka" yang berarti mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui kesejahteraan hewan". Manusia akan sejahtera jikalau hewan tersebut sejahtera.   Dalam konteks kesejahteraan hewan dikenal dengan 5 prinsip kesej...