Langsung ke konten utama

Pencegahana kawin berulang skala Peternak.

Pencegahana kawin berulang skala Peternak.

Repeat Breeder atau kawin berulang merupakan suatu kondisi sapi yang di kawin kan 3 kali berturut-turut dan tidak bunting, dengan siklus estrus normal. Siklus estrus pada sapi berlangsung selama 18-24 hari. Kawin berulang pada sapi dapat merugikan peternak secara ekonomi. Pada industri sapi perah dapat mengakibatkan penurunan produksi susu. Pada sapi breeding atau pembibitan akan panjang calving Interval / jarak beranak pertama ke beranak berikutnya.



Kawin barulang pada sapi dapat mengakibatkan kerugian dari segi makanan dan biaya pemeliharaan. Pencegahan yang tepat akan memberikan manfaat bagi usaha peternakan . Berikut tips Pencegahan kawin berulang pada sapi 




1. Berikan Anticacing/ anthelmintik rutin.

Anthelmintik pada sapi harus rutin diberikan pada ternak ,umumnya diberikan 3 bulan sekali . Hal ini untuk program pengendalian infestasi cacing pada sapi.  Sapi yang terkena cacingan akan kekurangan nutrisi dan tentunya akan menurunka performa reproduksi sapi.

2. Pakan yang seimbang 

Hijauan pakan ternak pada sapi diberikan 10% dari berat badan, dan konsentrat diberikan 1-2% dari berat badan sapi. Pemberian konsentrat 1-2 jam sebelum pemeberian hijauan pakan ternak. Selain pakan tersebut sapi harus diberikan mineral dan vitamin tambahan dalam pakan ternak. 

3. Manajemen Pengamatan Estrus.

Pengamatan birahi pada sapi dilakukan 3-4 kali dalam 24 jam, dnegan lama durasi pengamatan 30 menit. Sapi yang birahi akan mengeluarkan tanda - tanda seperti. Vulva membengkak, merah, hangat dan keluar lendir putih bening dari kemaluannya serta standing heat atau diam ketika dinaiki. Puncak dari birahi sapi diam dinaiki dan ini adalah waktu terbaik sapi di kawinkan. Perkawinan baik dengan kawin suntik / IB atau dengan kawin alam sudah bisa dilakukan ketika sapi muncul birahi 



Penulis .

Drh. Khairul Rizal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampaPencegahannya

  Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampai Pencegahannya Leukositozoonosis merupakan penyakit protozoa yang menyerang darah ternak unggas, yang disebabkan oleh parasit Leucocytozoon sp. (Levine, 1985). Spesies Leucocytozoon yang menyerang ayam di Indonesia teridentifikasi Leucocytozoon caulleryi dan L.sabrazesi (Soekardono, 1983; Soekardono dan Partosoedjono, 1986). L. caulleryi disebarkan oleh vektor Culicoides arakawae (Soekardono, 1987). Kejadian Leucocytozoonosis cenderung bersifat musiman yang berhubungan erat dengan peningkatan populasi vektor serangga, terutama pada pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya (Tabbu, 2002). Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat tinggi, pada unggas muda menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Unggas dewasa juga bisa terinfeksi dengan menimbulkan gejala diare, lemah, penurunan produksi, penurunan daya tetas telur, bahkan bisa menimbulkan kematian.   Jenis unggas yang rentan terhadap penyakit Leucocytozoo...

Diare pada Pedet dan Penangannya

   Diare pada Pedet dan Penangannya Pedet merupakan sapi yang masih berumur 1-8 bulan. Pada rentangan umur tersebut, pedet mulai memasuki fase percepatan pertumbuhan, dimana pada fase ini sapi akan tumbuh dengan maksimal apabila didukung oleh pakan yang baik dan sesuai kebutuhan, lingkungan yang mendukung serta manajemen pemeliharaan yang baik (Tazkia, 2008). Penanganan yang tepat pada pedet maupun sapi muda akan menghasilkan sapi potong berkualitas baik pada ternak jantan maupun betina (Efend y dkk. , 2013). Penanganan pedet mulai dari lahir sangat diperlukan agar nantinya bisa mendapatkan sapi yang mempunyai produktivitas tinggi untuk menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Penanganan kesehatan perlu diperhatikan dengan baik, mengingat angka kematian pedet yang cukup tinggi pada empat bulan pertama setelah pedet lahir. Di daerah tropis, rata – rata persentase kematian pedet dibawah umur tiga bulan mencapai 20% bahkan bi...

Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera

  Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera. Delapan belas hari sudah berlalu di Jawa Barat, saatnya kembali ke bumi Lancang Kuning. Hari terakhir di Jawa Barat saya manfaatkan mengunjungi Sabahat di Bekasi.  ( Cerita mengenai terpilihnya menjadi peserta satu-satunya dari provinsi riau  untuk mengikuti bimbingan teknis tranfer embrio di Balai Embrio Ternak Cipelang 2019 akan diceritakan pada tulisan lainnya. )  Ini saatnya saya kembali ke rutinitas biasa mengabdi untuk negeri melalui salah satu profesi yang mulia di bumi ini, profesi dokter hewan.   Menurut data dari WHO yaitu organisasi kesehatan Dunia bahwa 70% penyakit manusia berasal dari hewan atau yang dikenal dengan Zoonosis. Dokter Hewan , kami memiliki motto "Manusya Mriga Satwa Sewaka" yang berarti mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui kesejahteraan hewan". Manusia akan sejahtera jikalau hewan tersebut sejahtera.   Dalam konteks kesejahteraan hewan dikenal dengan 5 prinsip kesej...