Sunday, September 14, 2025

Ovariohisterctomy / Steril Betina

 


Layanan Operasi/Bedah/ Surgery Steril betina atau Ovariohisterctomy 

Syarat 

1. Hewan sehat

2. Sudah vaksinasi lengkap

3. Usia minimal 6 bulan

4. Berat minimal 2 kg

5. Anticacing rutin



1. Ossa Vet Care Perawang 

Jalan Raya Perawang Km 5 Kelurahan Perawang Siak Riau

2. Ossa Vet Care cab. Pekanbaru 

Jalan Taman Karya Panam Pekanbaru Riau

Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampaPencegahannya

 

Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampai Pencegahannya


Leukositozoonosis merupakan penyakit protozoa yang menyerang darah ternak unggas, yang disebabkan oleh parasit Leucocytozoon sp. (Levine, 1985). Spesies Leucocytozoon yang menyerang ayam di Indonesia teridentifikasi Leucocytozoon caulleryi dan L.sabrazesi (Soekardono, 1983; Soekardono dan Partosoedjono, 1986). L. caulleryi disebarkan oleh vektor Culicoides arakawae (Soekardono, 1987). Kejadian Leucocytozoonosis cenderung bersifat musiman yang berhubungan erat dengan peningkatan populasi vektor serangga, terutama pada pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya (Tabbu, 2002).

Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat tinggi, pada unggas muda menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Unggas dewasa juga bisa terinfeksi dengan menimbulkan gejala diare, lemah, penurunan produksi, penurunan daya tetas telur, bahkan bisa menimbulkan kematian.  Jenis unggas yang rentan terhadap penyakit Leucocytozoonosis adalah ayam, kalkun,angsa, itik dan burung liar .

Cara Penularan

Lalat penggigit seperti Simulium sp. dan Culicoides sp. berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit Leucocytozoonosis. Lalat hitam (Simulium sp.) biasanya berkembang biak pada air yang mengalir dan mencari makan pada siang hari, sedangkan serangga penggigit bersayap dua (Culicoides sp.) berkembang biak di dalam lumpur atau kotoran ayam dan menggigit pada malam hari. Lalat hitam (Simulium sp.) dan serangga penggigit bersayap dua (Culicoides sp.) bertindak sebagai reservoir penyakit tersebut selama suatu musim atau periode tertentu (Tabbu, 2002).

Gejala Klinis

Gejala yang terlihat umumnya adalah penurunan nafsu makan, haus, depresi, bulu kusut dan pucat. Ayam kehilangan keseimbangan, lemah, pernapasan cepat dan anemia. Kejadian penyakit berlangsung cepat. Ayam dapat mati atau sembuh dengan sendirinya. Angka kematian dapat mencapai 10-80% (Akoso, 1998). Leucocytozoonosis yang menyerang pada ayam yang sedang dalam pertumbuhan pada umumnya bersifat subklinik, sedangkan pada ayam yang sedang produksi akan menurunkan produksi telur secara drastis, dan membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk kembali ke tingkat produksi yang normal (Tabbu, 2000).

Dianogsa

Dianogsa penyakit dapat dilakukan dikukuhkan dengan menemukan gametosit parasit ini pada preparat ulas darah yang diwarnai dengan giemsa atau wright, tanda-tanda klinis atau perubahan-perubahanpasca mati dan mikroskopis (Ressang,  1983).

 Gambaran Leukositozoon pada preparat ulas darah dengan pewarnaan Giemsa. Sampel merupakan darah ayam broiler umur 25 hari yang memiliki gejala Leukositozoonosis . Dokumentasi penulis semasa koasistensi Dokter hewan, ketika melakukan investigasi kematian ayam broiler di Aceh Besar.

                                      Dokumentasi Penulis. Drh. Khairul Rizal


Gambaran Skizon pada preparat histopatologi paru-paru.  Sampel merupakan darah ayam broiler umur 25 hari yang memiliki gejala Leukositozoonosis . Dokumentasi penulis semasa koasistensi Dokter hewan, ketika melakukan investigasi kematian ayam broiler di Aceh Besar..

Selain skizon yang pada paru-paru , penulis pada investigasi tersebut juga membuat preparat organ timus, dan prankreas dan pada organ tersebut juga ditemukan skizon dan megaloskizon, namun penulis tidak mempublikasi pada artikel ini. 

Pencegahan

Tindakan dalam pencegahan Leucocytozoonosis yang dianggap paling efektif adalah menekan atau mengeliminasi vektor biologis (insekta) yaitu lalat Culicoides sp. dan Simulium sp. Mengurangi larva serangga dapat dilakukan dengan spraying di sekitar kandang menggunakan insektisida. Genangan air dan semak belukar atau rumput dan tanaman yang tidak berguna disekitar kandang juga perlu dihindari, karena dapat menjadi tempat berkembangbiaknya serangga (Purwanto dkk, 2010). Peternak diharapkan melakukan program kebersihan dan sanitasi kandang dengan rutin. Ventilasi kandang harus diperhatikan dengan baik. Penyemprotan kandangan dan lingkungan kandanng dengan menggunakan bahan insektisida sangat dianjurkan 3 minggu sekali.  Hewan yang sakit segera dipisahkan dengan hewan yang sehat.

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner 

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Siak Riau.

Petugas Kesehatan Hewan Kecamatan Sungai Mandau.

Veterinary Content Creator.

*

Bahan Bacaan

Bahan Bacaan

Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius, Yogyakarta

Levine ND. 1995. Protozoology Veterinary. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press

Purwanto, Budi.,dkk. 2009. Leucocytozoonosis, dari Gejalanya sampai Penanganannya . Tersedia : http://www.majalahinfovet.com/2009/01/leucocytozoonosis-dari-gejalanyasampai.html.

Ressang,  1983. Patologi Khusus Veteriner. Denpassar

Soekardono S. 1983. Spesies Culicoides di Jawa Barat dan Hubungannya dengan Leukositozoonosis Ayam. Kumpulan Makalah Seminar Parasitologi Nasional II. Jakarta. Soekardono S. 1987. Culicoides (Diptera: Ceratopogonidae) di Sekitar Ayam dalam Kandang di Jawa Timur. Majalah Parasitologi Indonesia. 1 (2) : 35-41

Soekardono S, Partosoedjono S. (1986). Parasitparasit Ayam. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama

Tabbu, C.R. 2002. Penyakit Ayam dan Penaggulangannya – vol. 2. Yogyakarta : Kanisius


Saturday, March 27, 2021

Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera

 

Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera.


Delapan belas hari sudah berlalu di Jawa Barat, saatnya kembali ke bumi Lancang Kuning. Hari terakhir di Jawa Barat saya manfaatkan mengunjungi Sabahat di Bekasi. (Cerita mengenai terpilihnya menjadi peserta satu-satunya dari provinsi riau  untuk mengikuti bimbingan teknis tranfer embrio di Balai Embrio Ternak Cipelang 2019 akan diceritakan pada tulisan lainnya.) Ini saatnya saya kembali ke rutinitas biasa mengabdi untuk negeri melalui salah satu profesi yang mulia di bumi ini, profesi dokter hewan.  Menurut data dari WHO yaitu organisasi kesehatan Dunia bahwa 70% penyakit manusia berasal dari hewan atau yang dikenal dengan Zoonosis.

Dokter Hewan , kami memiliki motto "Manusya Mriga Satwa Sewaka" yang berarti mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui kesejahteraan hewan". Manusia akan sejahtera jikalau hewan tersebut sejahtera.  Dalam konteks kesejahteraan hewan dikenal dengan 5 prinsip kesejahteraan hewan, yaitu 1. bebas dari rasa haus dan lapar. 2. Bebas dari rasa ketidak nyamanan/ penyiksaan fisik 3. Bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit. 4. Bebas untuk mengekspesikan perilaku alamiah  dan 5. Bebas dari ketakutan dan rasa tertekan. Inilah yang sama-sam kita kenal dengan five freedom Animal Welfere.

Perjalanan dari Kota Bekasi  ke Bandara Halim Perdana Kusuma saya tempuh dengan menggunakan mobil online , kira-kira 60 menit perjalanan.  Seperti biasa memasuki bandara , hal pertama yang kita lakukan tentu check in dan memasukkan barang ke bagasi, bawaan saya standar saja, 1 koper dan 1 ransel. Setelah di ruang tunggu beberapa saat , tiba saatnya pesawat tujuan Bandara SSK Pekanbaru akan berangkat, segera saya menuju pesawat.

X -Ray barang bawaan adalah kewajiban yang mesti dilalui, karena ini adalah salah satu point' penting dalam industri penerbangan, keselamatan penerbangan dan penumpang di sini menjadi salah satu penentu, misal di pesawat tidak boleh ada bahan-bahan yang memiliki resiko ledak tinggi, senjata tajam, bahan-bahan seperti Alkohol , Narkotika dan lain yang telah diatur dalam undang-undang penerbangan.  Akhirnya giliran tas saya yang di X -Ray. Lampu berbunyi, menandakan ada benda asing dalam tas tersebut.

"Bapak, boleh dibuka isi tas, karena di sini dideteksi ada benda logam panjang ukurannya?". Kata petugas bandara.

Saya pun menjawab. "Baik , Pak, mungkin yang dimaksud Gun TE , mohon tinggi sebentar pak.

Bergegas saya mengeluarkan isi ransel dan menunjukkan ke pihak bandara Gun Protector , kemudian mengeluarkan isinya ada Gun Transfer Embrio (TE), dan Plastik Sheet TE.  Saya menjelaskan kepihak bandara bahwa saya Seorang Dokter Hewan (dengan menunjukkan Kartu keanggotaan PDHI/Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), seraya menjelaskan bahwasanya Gun TE ini berfungsi Untuk Memasukkan Embrio ke dalam Uterus /Rahim Sapi betina.) Gun TE ini saya peroleh dari Balai embrio Ternak Cipelang, Bogor.

                                                                        Gun Transfer Embrio

Saya juga menjelaskan melalui GUN TE inilah Gatot Kaca (Nama dari sapi Belgian Blue) berhasil di lahirkan oleh induk sapi di BET Cipelang. Nah , saya menambahkan Insya Allah alat ini tidak membahayakan , ini alat medis yang digunakan untuk untuk kemanjuan peternakan di Indonesia. Setelah mendengar penjelasan saya akhirnya petugas mengerti, Gun TE berhasil masuk cabin pesawat.

Transfer Embrio ini merupakan salah satu dari kemajuan teknologi reproduksi ternak, generasi pertamanya Inseminasi Buatan yang sudah sangat populer di Nusantara ini.  Transfer Embrio adalah usaha memasukkan Embrio kedalam uterus hewan. Transfer embrio memiliki banyak keunggulan diantaranya adalah mendapatkan Galur murni 100%, dan dengan demikian kita akan mendapatkan bibit unggul dalam waktu yang singkat. Transfer embrio ini harus dilakukan oleh seorang Dokter Hewan/Vet atau seseorang yang telah mendapatkan sertifikat/keahlian dari instansi/ lembaga yang berwenang yang di akui Nasional (Kementerian Pertanian), dan di bawah pengawasan Dokter Hewan.

Pukul 22.20 WIB. Pesawat mendarat dengan sempurna di SSK Airport Pekanbaru, setelah dua jam penerbangan, Syukur kepada Allah , atas kuasa Nya , Perjalanan lancar dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan melanjutkan pengabdian untuk kesejahteraan manusia , melalui profesi dokter hewan.

Sekian.

Januari 2019

Drh. Khairul Rizal..

Dinas Perikanan dan Peternakan Kab. Siak. Riau

Thursday, March 25, 2021

Diare pada Pedet dan Penangannya

  Diare pada Pedet dan Penangannya

Pedet merupakan sapi yang masih berumur 1-8 bulan. Pada rentangan umur tersebut, pedet mulai memasuki fase percepatan pertumbuhan, dimana pada fase ini sapi akan tumbuh dengan maksimal apabila didukung oleh pakan yang baik dan sesuai kebutuhan, lingkungan yang mendukung serta manajemen pemeliharaan yang baik (Tazkia, 2008).

Penanganan yang tepat pada pedet maupun sapi muda akan menghasilkan sapi potong berkualitas baik pada ternak jantan maupun betina (Efendy dkk., 2013). Penanganan pedet mulai dari lahir sangat diperlukan agar nantinya bisa mendapatkan sapi yang mempunyai produktivitas tinggi untuk menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi (Syarief dan Sumoprastowo, 1985).

Penanganan kesehatan perlu diperhatikan dengan baik, mengingat angka kematian pedet yang cukup tinggi pada empat bulan pertama setelah pedet lahir. Di daerah tropis, rata – rata persentase kematian pedet dibawah umur tiga bulan mencapai 20% bahkan bisa mencapai 50% (Reksohadiprojo, 1984).

2.2. Diare pada Pedet

Diare pada pedet merupakan gejala penyakit yang dapat mempengaruhi peningkatan kuantitas dan kualitas ternak, peningkatan jaminan keamanan pangan hewani yang aman, sehat,utuh dan halal. Angka kesakitan dan kematian pada anak sapi potong maupun sapi perah sangat beragam tergantung pada faktor penyebabnya.Diare menjadi salah satu masalah utama yang mengancam peternak karena sering menyerang pedet berumur kurang dari 14 hari (Wudu dkk., 2008). Anak sapi penderita diare akan mengalami mengalami kekurangan cairan yang mengandung garam mineral atau elektrolit sehingga terjadi dehidrasi dan asidosis yang dapat menyebabkan kematian. Kerugian ekonomi yang dirasakan oleh peternak akibat biaya obat dan tenaga pengobatan, kematian dan gangguan pertumbuhan pada anak sapi yang masih bertahan hidup (Anderson dkk., 2003).

Faktor Penyebab Diare

Diare pada umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, dan protozoa. Bakteri yang paling banyak menyebabkan diare adalah Escherichia coli (E. coli).Menurut Anderson dkk., 2003, kerugian ekonomi yang dirasakan oleh peternak akibat biaya obat dan tenaga pengobatan, kematian dan gangguan pertumbuhan pada anak sapi yang masih bertahan hidup.

                         http://bbalitvet.litbang.pertanian.go.id/takesi-web/main/penyakit_indukan

            Banyak faktor penyebab diare pada pedet antara lain gangguan metabolik, penyakit yang disebabkan oleh nutrisi (Payne, 1989), agen penyakit infeksius maupun non-infeksius (Ralston dkk., 2003). Beberapa agen patogen penyebab diare yang banyak ditemukan adalah bakteri: enterotoksigenik Escherichia coli (Nagy dan Fekete, 2005), Salmonella enterica (Berge dkk., 2006), Clostridium perfringens (Quinn dkk., 2002), virus: Rotavirus dan Coronavirus (Aich dkk., 2007; Ghosh dkk., 2007), protozoa: Cryptosporidiumparvum (Castro Hermida dkk., 2002). Diare biasanya disebabkan oleh jasad renik (Escheria Coli) yang secara umum ditemukan pada sapi dan manusia ( Wacana, 1991).

 

Tindakan Pencegahan diare

Kemampuan menekan angka mortalitas ternak dapat dilakukan melalui manajemen penanganan penyakit, yaitu suatu tindakan berupa pencegahan, pengendalian dan pemberantasan. Tindakan pencegahan dilakukan dengan cara mencegah masuknya bibit penyakit dengan menjaga kebersihan kandang dan memperhatikan manajemen pemberian pakan yang baik. Tindakan pengendalian dilakukan dengan menekan kejadian penyakit serendah-rendahnya sehingga tidak menimbulkan dampak kerugian ekonomi yang lebih besar, dan tindakan pemberantasan dilakukan dengan upaya untuk menghilangkan agen penyebab penyakit (Putra, 2006).

Pengobatan Diare Pedet

        Pengobatan diare pedet didasarkan pada causalis atau faktor penyebab daire  tersebut. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui penyebab dari diare. Diare yang disebabkan oleh bakteri maka diberikan antibakteri atau antibiotik, diare yang disebabkan oleh protozoa maka diberikan antiprotoza, begitu pula bila disebabkan oleh cacing maka diberikan anticacing atau anthelmintik. Peternak tidak disarankan memberikan obat-obatan tanpa rekomendasi dari dokter hewan. Diare pada pedet juga bisa disebabkan oleh rumput  atau hijauan yang terlalu muda, maka perlu diperhatikan dengan baik hijauan yang akan diberikan ke pedet. 


Drh. Khairul Rizal


Wednesday, March 24, 2021

Tuberculosis Sapi ( Bovine Tuberculosis)

 

Tuberculosis Sapi ( Bovine Tuberculosis)

Mycobacterium bovis penyebab BTB adalah anggota dari Mycobacterium tuberculosis kompleks. Kelompok yang juga termasuk didalamnya ialah : Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium africanum dan Mycobacterium microti. Mycobacterium bovis merupakan agen penyebab tuberkulosis pada sapi sedangkan Mycobacterium tuberculosis pada manusia (Qamar dan Azhar, 2013).


Kejadian Mycobacterium bovis penyebab tuberkulosis sapi di Indonesia dilaporkan pertama kali menyerang sapi perah di Semarang (Jawa Tengah) oleh Penning pada tahun 1906, yang pada saat itu dilakukan uji tuberkulinasi terhadap 303 ekor sapi perah dan hasilnya ditemukan 3 sapi (0,9%) yang bereaksi positif (reaktor) terhadap tuberkulosis (Tarmudji dan Supar, 2008).

Sapi merupakan inang sejati Mycobacterium bovis. Selain sapi, ternak kambing dan babi juga rentan terhadap serangan tuberkulosis. Sedangkan sejumlah hewan lain seperti kerbau, onta, rusa, kuda, bison dan berbagai satwa liar baik yang hidup di alam bebas maupun yang hidup terkurung di kebun binatang maupun hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, semuanya dapat terserang tuberkulosis. Diperkirakan bahwa kerugian ekonomi akibat tuberkulosis adalah kehilangan 10-25% dari efisiensi produksi di luar kematian hewan (OIE, 2009).

Cara Penularan

Penularan tuberkulosis sapi yang paling umum ada 2 cara yaitu

1.      Penularan melalui saluran pernafasan (per Inhalasi ), dengan terhisapnya M.bovis yang ditularkan bersama udara ketika penderita bernafas yang kemudian mencemari udara dalam kandang (droplet infection ),oleh hewan sehat yang berada di dekatnya.

2.      Penularan melalui saluran cerna (per Indigesti), dengan termakannya  M.bovisyang terdapat pada pakan dan air minum tercemar oleh hewan sehat yang ada disekitar hewan tertular. (Manual Penyakit Mamalia ISIKHNAS )

 

Tuberkulosis sapi yang merupakan penyakit zoonosis . Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Maka, diharapkan masyarakat dapat melakukan upayaa pencegahan menularnya penyakit ini ke manusia dengan cara berikut ini.

1.      Menghindari kontak lanngsung dengan hewan tertular

2.      Masak daging sapi yang akan dikonsumsi dengan matang

3.      Hanya konsumsi susu hewan yang telah dipasturisasi atau di steril atau dipanaskan atau olahan susu

4.      Apabila ada ternak yang sakit jangan dilakukan pengobatan sendiri , segera hubung dokter hewan terdekat.

Mycobacterium bovis bisa menyebabkan penyakit TB pada manusia yang dapat menyerang paru-paru, lymph nodes dan bagian tubuh lainnya. Tidak semua orang yang terinfeksi Mycobacterium bovis menjadi sakit. Orang yang terinfeksi tetapi tidak sakit disebut Infeksi TB laten. Orang yang menderita infeksi TB laten tidak merasa sakit, tidak memiliki gejala apapun dan tidak dapat menyebar TB kepada orang lain (CDC, 2011)

 

Drh. Khairul Rizal