Ossa Vet Care adalah Branding dari Praktik Dokter Hewan yang di kelola oleh Drh. Khairul Rizal, memiliki motto "Healthy Animals, Thriving Community". Healthy Animals, Thriving Community Ossa Vet Care adalah pusat layanan kesehatan hewan praktik dokter hewan mandiri terintegrasi yang berfokus pada pencegahan, bukan hanya pengobatan. Dari vaksinasi, pemeriksaan pangan asal hewan, hingga edukasi peternak, semua kami lakukan dengan standar Veterinary Public Health.
Monday, August 31, 2026
Monday, August 24, 2026
Layanan Pemeriksaan USG pada Kuda dan Hewan Lainnya di Ossa Vet Care
Sunday, August 23, 2026
Ossa Vet Care "Healthy Animals, Thriving Community"
Ossa Vet Care, Praktik Dokter Hewan Berkomitmen Untuk Kesehatan Hewan dan Kesejahteraan Manusia
drh. Khairul Rizal
Saya, "drh. Khairul Rizal" dalah seorang dokter hewan yang percaya bahwa merawat hewan sama dengan merawat kehidupan dan masa depan masyarakat. Kecintaan saya terhadap dunia hewan dan kesehatan masyarakat tumbuh sejak awal. Bagi saya, hewan bukan hanya objek perawatan, tetapi bagian penting dari rantai kehidupan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan manusia. Dari keyakinan inilah saya memilih menempuh pendidikan kedokteran hewan dan mendedikasikan diri sebagai praktisi.
Selama berkarir, saya memegang 5 nilai utama:
Profesionalitas, Ilmu Pengetahuan, Kasih Sayang, Toleransi, dan Bermanfaat untuk Masyarakat Luas. Bagi saya, profesional artinya memberi layanan terbaik berbasis ilmu. Kasih sayang artinya memperlakukan setiap pasien dengan empati. Dan bermanfaat untuk masyarakat artinya setiap tindakan saya harus memberi dampak nyata, dari peternak kecil hingga kesehatan komunitas.
Berangkat dari nilai-nilai tersebut, saya mendirikan "OSSA VET CARE" dengan semangat:
"Healthy Animals, Thriving Community"
Hewan Sehat, Masyarakat Sejahtera
OSSA VET CARE hadir sebagai praktik dokter hewan yang mengutamakan pelayanan profesional, pendekatan ilmiah, dan hati yang peduli. Kami melayani semua jenis hewan, mulai dari ternak hingga hewan kesayangan, dengan tujuan akhir: mendukung kesehatan hewan dan memperkuat komunitas di sekitarnya.
Bagi saya, menjadi dokter hewan bukan sekadar profesi. Ini adalah pengabdian. Setiap nyawa yang saya rawat adalah amanah. Setiap pemilik yang saya temui adalah mitra. Dan setiap komunitas yang sehat adalah bukti bahwa ilmu dan kasih dapat berjalan beriringan.
Saya percaya, dengan ilmu yang terus diasah, pelayanan yang tulus, dan kolaborasi bersama masyarakat, kita bisa menciptakan lingkungan di mana hewan sehat, manusia sejahtera, dan negeri menjadi lebih kuat.
Salam hangat,
drh. Khairul Rizal
Founder OSSA VET CARE
ossavetcare@gmail.com
Sunday, September 14, 2025
Ovariohisterctomy / Steril Betina
Layanan Operasi/Bedah/ Surgery Steril betina atau Ovariohisterctomy
Syarat
1. Hewan sehat
2. Sudah vaksinasi lengkap
3. Usia minimal 6 bulan
4. Berat minimal 2 kg
5. Anticacing rutin
1. Ossa Vet Care Perawang
Jalan Raya Perawang Km 5 Kelurahan Perawang Siak Riau
2. Ossa Vet Care cab. Pekanbaru
Jalan Taman Karya Panam Pekanbaru Riau
Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampaPencegahannya
Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampai Pencegahannya
Leukositozoonosis merupakan penyakit protozoa yang menyerang darah ternak unggas, yang disebabkan oleh parasit Leucocytozoon sp. (Levine, 1985). Spesies Leucocytozoon yang menyerang ayam di Indonesia teridentifikasi Leucocytozoon caulleryi dan L.sabrazesi (Soekardono, 1983; Soekardono dan Partosoedjono, 1986). L. caulleryi disebarkan oleh vektor Culicoides arakawae (Soekardono, 1987). Kejadian Leucocytozoonosis cenderung bersifat musiman yang berhubungan erat dengan peningkatan populasi vektor serangga, terutama pada pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya (Tabbu, 2002).
Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat tinggi, pada unggas muda menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Unggas dewasa juga bisa terinfeksi dengan menimbulkan gejala diare, lemah, penurunan produksi, penurunan daya tetas telur, bahkan bisa menimbulkan kematian. Jenis unggas yang rentan terhadap penyakit Leucocytozoonosis adalah ayam, kalkun,angsa, itik dan burung liar .
Cara Penularan
Lalat penggigit seperti Simulium sp. dan Culicoides sp. berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit Leucocytozoonosis. Lalat hitam (Simulium sp.) biasanya berkembang biak pada air yang mengalir dan mencari makan pada siang hari, sedangkan serangga penggigit bersayap dua (Culicoides sp.) berkembang biak di dalam lumpur atau kotoran ayam dan menggigit pada malam hari. Lalat hitam (Simulium sp.) dan serangga penggigit bersayap dua (Culicoides sp.) bertindak sebagai reservoir penyakit tersebut selama suatu musim atau periode tertentu (Tabbu, 2002).
Gejala Klinis
Gejala yang terlihat umumnya adalah penurunan nafsu makan, haus, depresi, bulu kusut dan pucat. Ayam kehilangan keseimbangan, lemah, pernapasan cepat dan anemia. Kejadian penyakit berlangsung cepat. Ayam dapat mati atau sembuh dengan sendirinya. Angka kematian dapat mencapai 10-80% (Akoso, 1998). Leucocytozoonosis yang menyerang pada ayam yang sedang dalam pertumbuhan pada umumnya bersifat subklinik, sedangkan pada ayam yang sedang produksi akan menurunkan produksi telur secara drastis, dan membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk kembali ke tingkat produksi yang normal (Tabbu, 2000).
Dianogsa
Dianogsa penyakit dapat dilakukan dikukuhkan dengan menemukan gametosit parasit ini pada preparat ulas darah yang diwarnai dengan giemsa atau wright, tanda-tanda klinis atau perubahan-perubahanpasca mati dan mikroskopis (Ressang, 1983).
Gambaran Leukositozoon pada preparat ulas darah dengan pewarnaan Giemsa. Sampel merupakan darah ayam broiler umur 25 hari yang memiliki gejala Leukositozoonosis . Dokumentasi penulis semasa koasistensi Dokter hewan, ketika melakukan investigasi kematian ayam broiler di Aceh Besar.Dokumentasi Penulis. Drh. Khairul Rizal
Gambaran Skizon pada preparat histopatologi paru-paru. Sampel merupakan darah ayam broiler umur 25 hari yang memiliki gejala Leukositozoonosis . Dokumentasi penulis semasa koasistensi Dokter hewan, ketika melakukan investigasi kematian ayam broiler di Aceh Besar..
Selain skizon yang pada paru-paru , penulis pada investigasi tersebut juga membuat preparat organ timus, dan prankreas dan pada organ tersebut juga ditemukan skizon dan megaloskizon, namun penulis tidak mempublikasi pada artikel ini.
Pencegahan
Tindakan dalam pencegahan Leucocytozoonosis yang dianggap paling efektif adalah menekan atau mengeliminasi vektor biologis (insekta) yaitu lalat Culicoides sp. dan Simulium sp. Mengurangi larva serangga dapat dilakukan dengan spraying di sekitar kandang menggunakan insektisida. Genangan air dan semak belukar atau rumput dan tanaman yang tidak berguna disekitar kandang juga perlu dihindari, karena dapat menjadi tempat berkembangbiaknya serangga (Purwanto dkk, 2010). Peternak diharapkan melakukan program kebersihan dan sanitasi kandang dengan rutin. Ventilasi kandang harus diperhatikan dengan baik. Penyemprotan kandangan dan lingkungan kandanng dengan menggunakan bahan insektisida sangat dianjurkan 3 minggu sekali. Hewan yang sakit segera dipisahkan dengan hewan yang sehat.
Drh. Khairul Rizal
Medik Veteriner
Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Siak Riau.
Petugas Kesehatan Hewan Kecamatan Sungai Mandau.
Veterinary Content Creator.
*
Bahan Bacaan
Bahan Bacaan
Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius, Yogyakarta
Levine ND. 1995. Protozoology Veterinary. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press
Purwanto, Budi.,dkk. 2009. Leucocytozoonosis, dari Gejalanya sampai Penanganannya . Tersedia : http://www.majalahinfovet.com/2009/01/leucocytozoonosis-dari-gejalanyasampai.html.
Ressang, 1983. Patologi Khusus Veteriner. Denpassar
Soekardono S. 1983. Spesies Culicoides di Jawa Barat dan Hubungannya dengan Leukositozoonosis Ayam. Kumpulan Makalah Seminar Parasitologi Nasional II. Jakarta. Soekardono S. 1987. Culicoides (Diptera: Ceratopogonidae) di Sekitar Ayam dalam Kandang di Jawa Timur. Majalah Parasitologi Indonesia. 1 (2) : 35-41
Soekardono S, Partosoedjono S. (1986). Parasitparasit Ayam. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Tabbu, C.R. 2002. Penyakit Ayam dan Penaggulangannya – vol. 2. Yogyakarta : Kanisius




