Thursday, March 11, 2021

Inseminasi Buatan Pada Sapi

Inseminasi Buatan Pada Sapi 

Inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu dari teknologi reproduksi. IB sekarang sudah menjadi pilihan Peternak Breeder skala besar maupun Peternakan rakyat skala kecil. IB merupakan suatu teknologi reproduksi dengan cara memasukkan atau mendeposisikan semen ke dalam saluran reproduksi betina menggunakan peralatan khusus. 

IB sudah popular dikalangan masyarakat. Bahkan dibeberapa wilayah di Indonesia tiap kecamatan sudah memiliki petugas Inseminasi buatan dari dinas peternakan setempat yang bisa dihubungi. Dalam udah pembiakan sapi,  peternak tidak perlu membeli pejantan ,bila sapi birahi cukup menghubungi petugas ,dan petugas akan datang  ke lokasi untuk melakukan Inseminasi buatan . Namun tentunya keberhasilan IB akan ditentukan ketepatan peternak mengenali gejala estrus atau gejala birahi dari ternaknya 


IB / Inseminasi buatan ditengah masyarakat juga dikenal dengan sebutan "kawin suntik" , karena dalam praktiknya semen/ bibit yang dimasukkan menggunakan alat suntik atau yang dikenal dengan Gun IB / Insemition Gun. IB merupakan kompetensi dari Dokter Hewan dan dokter hewan adalah oaramg yang berwenang melakukan pelayanan Inseminasi buatan. Namun IB dapat dilakukan oleh paramedis veteriner / mantri hewan dibawah pengawasan dari penyelia Dokter Hewan.

Keberhasilan dari IB ditentukan oleh berapa faktor yaitu 

1. Deteksi Estrus harus tepat

Peternak harus mengetahui sapi yang estrus atau birahi dengan begitu akan dapat ditentukan waktu sapi akan dilakukan IB. Peternak harus menentukan metode dari deteksi estrus atau birahi yang mudah dan tepat.  Misalnya observasi atau pengamatan langsung. Pengamatan sapi birahi dilakukan 3-4 x dengan durasi 30 menit dan mengamati gejala estrus. 

2. Waktu IB yang tepat.

Sapi yang berada di puncak estrus memiliki gejala standing heat atau diam dinaiki dan ini adalah waktu terbaik untuk dilakukan IB. Sapi yang memiliki gejala standing heat besar kemungkinannya ovulasi dapat berlangsung. 


Drh. Khairul Rizal

Wednesday, March 10, 2021

Mencegah Retensio Scundinarum Pada Sapi

 Mencegah Retensio Scundinarum Pada Sapi

Retensio scundinarum /retensi Plasenta merupakan tertahannya plasenta pada sapi lebih dari 12 jam. Setelah sapi melahirkan diiringi dengan keluarnya Plasenta 8-12 jam berikutnya. 

Retensi plasenta pada sapi harus mendapatkan penanganan yang tepat, Penanganan yang tidak tepat dapat mengakibatkan infeksi pada rahim. Infeksi pada rahim akan menyebabkan anestrus post partum yang panjang atau yang disebut anestrus secara patologi dikarenakan infeksi pada rahim.

Pada kasus retensi plasenta peternak agr tidak melakukan pengeluaran plasenta sendiri, namun harus memanggil dokter hewan atau petugas kesehatan hewan untuk melakukan penanganan terbaik.


Pencegahan Retensi Plasenta 

Peternak rutin memberikan mineral blok , premiks ,atau vitamin dan mineral yang dicampurkan ke konsentrat. Konsentrat diberikan 1-2 % dari berat badan. Konsentrat boleh yang bentuk pellet /pakan komersil atau ampas tahu, dedak padi dan lain-lain. Konsentrat ini merupakan bahana pakan kaya akan protein dan rendah serat kasar. 

Pada usia Kebuntingan 9 bulan, peternak dapat memanggil dokter hewan atau petugas kesehatan hewan untuk memberikan terapi Multivitamin dalam bentuk Injeksi. 

Menjelang kelahiran sapi ditempatkan di kandang yang agak besar, bebas stress, lingkungan yang nyaman, hal ini dapat meminimalisir terjadinya retensi plasenta. 


Drh. Khairul Rizal 

Medik Veteriner.

Tuesday, March 9, 2021

Kasus Gangguan Reproduksi Lapangan Hari Ini

 Kasus Gangguan Reproduksi Lapangan Hari Ini

Seekor sapi Bali betina berumur 3.5 tahun, sudah pernah beranak satu kali, usia pedet 6 bulan ,dilaporkan peternak tidak pernah estrus atau birahi setelah melahirkan. 

Setelah anamnesa dilakukan, dilanjutkan pemeriksaan status Reproduksi sapi Bali tersebut. Hasil pemeriksaan ovarium sinistra et dextra mengalami hipofungsi Ovarium.

Pada kasus ini diberikan Penanganan pemberian Anticacing, Vitamin dan Mineral. Selanjutnya dilakukan Treatment /terapi lanjutan dengan injeksi hormonal. 

Pemeliharaan sapi tanpa kandang, dan hanya diberikan pakan hijauan tanpa konsentrat dan Premix atau vitamin dan mineral dalam pakan menjadi salah satu faktor penyebab hipofungsi Ovarium. Sapi dipelihara tidak diberikan nutrisi yang cukup. Sehingga anestrus post partu menjadi lama dan kekurangan nutrisi jangka panjang menyebabkan penurunan kinerja Reproduksi.

Pada kasus ini masih sapi majir sementara., dengan catatan rutin diberikan premix atau vitamin dan mineral dalam konsentrat. ,Hijauan pakan yang bernutrisi dan konsentrat diberikan 1-2% dari berat badan.


Edukasi client.

Untuk peternak yang memelihara sapi perlu diperhatikan manajemen Reproduksi. Anestrus post partum /sapi tidak birahi rotfjfjfjdjdjsetelah melahirkan terjadi selama fase involusi uterus/kembalinya Uterus ke bentuk dan fungsi normal. Involusi uterus berlangsung 35-46 hari pada sapi. Normlanya sapi akan birahi atau estrus setelah fase tersebut.  Perkawinan sapi biasa pada hari ke 60-80 sapi melahirkan. Apabila dalam tentang tersebut sapi tidak birahi. Segera hubungi dokter hewan atau petugas kesehatan hewan ,agar dilakukan pemeriksaan langsung terhadap status Reproduksi ternak .


Drh. Khairul Rizal

PDHI cabang Riau

Monday, March 8, 2021

Gejala Umum Tungau Telinga Pada Kucing

 Gejala Umum Tungau Telinga Pada Kucing

Tungau telinga pada kucing menimbulkan permasalahan beragam, mulai dari rasa tidak nyaman pada kucing, gatal-gatal ,yang dapat teramati kucing menggaruk telinganya, hingga menyebabkan infeksi sekunder bakteri pada telinga pada kasus yang berat mengakibatkan otitis interna.

Tungau telinga pada kucing menyebabkan kucing anoreksia atau tidak selera makan, pada infeksi yang berat mengakibatkan hewan kurus. 




Pencegahan penularan tungau telinga pada kucing dengan cara membersihkan kandang
secara rutin, tidak membiarkan hewan keluar rumah, rutin memandikan, dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter hewan.



Sunday, March 7, 2021

Kista Folikel Pada Sapi dan Penanggulangannya

Kista Folikel Pada Sapi dan Penanggulangannya

Sapi merupakan salah satu penyuplai protein hewani terbesar. Semakin bertambah populasi penduduk ,makan kebutuhan protein hewani semakin tinggi pula. Breeding atau pembibitan sapi adalah solusi untuk memenuhi kebutuhan daging untuk kebutuhan masyarakat.




Breeding /pembibitan harus dikelola dengan manajemen yang baik, mulai dari penyediaan bibit yang baik dan unggul, tersedianya pakan hijauan yang cukup, dan manjemen pencegahan dan pengendalian penyakit, serta manajemen reproduksi yang bagus. Ada beberapa indikator keberhasilan breeding yang dinilai dari capaian Reproduksi, seperti calving Interval atau jarak beranak 11-13 bulan servis per conception kurang dari 2 dan lain -lain.

Siklus estrus pada sapi berlangsung 18-24 hari. Siklus estrus dibagi menjadi 2 fase yaitu fase folikuler (terdiri dari proestrus dan estrus) dan fase luteal (fase metestrus dan fase diestrus). Peternak harus memahami setiap fase tersebut dengan baik. Estrus pada sapi berlangsung 12 jam. Menurut Putro ( 2010) , kebanyakan bangsa sapi mempunyai rerata lama Estrus 12 jam dengan bervariasi normal antara 2-30 jam. 

Peternak yang memahami gejala estrus akan dapat menentukan waktu terbaik sapi dikawinkan., Dan tentunya hal ini akanka berpengaruh terhadap angka keberhasilan Inseminasi buatan/ IB. Namun, dalam praktek dilapangan , ada beberapa gangguan reproduksi dalam siklus estrus tersebut,. Salah satunya adalah Kista Folikel

Kista folikel pada sapi memiliki gejala nimphomania atau birahi terus menerus. Dalam satu siklus estrus dapat terjadi beberapa kali estrus atau birahi.


Penanganan kasus kista folikel.

Setelah sapi dikawinkan baik secara alamiah maupun IB, biasa sapi akan birahi kembali beberapa hari kemudian , dalam waktu 18-24 hari terjadi beberapa kali birahi, peternak tidak perlu mengawinkan sapinya kembali . Peternak dapat menghubungi Dokter Hewan atau petugas kesehatan hewan setempat untuk melakukan pengecekan dan memberikan treatment atau terapi hormonal. Penanganan selanjutnya peternak harus memberikan premiks yaitu vitamin dan mineral dalam pakan., memberikan asupan nutrisi hijauan pakan ternak yang cukup, dan air minum tersedia terus menerus atau ad libitum. 

Semoga ulasan ini bermanfaat untuk SobaTernak.



Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Siak Riau.