Monday, March 1, 2021

Pencegahan Jembrana Pada Sapi Bali

 Pencegahan Jembrana Pada Sapi Bali

        Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral yang bersifat menular pada sapi Bali. Penyakit Jembrana disebabkan oleh Retrovirus, dari anggota group lentivirus yang unik dan disebut Jembrana disease virus (JDV).  Masa inkubasi berkisar antara 4-7 hari yang diikuti dengan munculnya demam hingga mencapai 41o- 42o C yang berlangsung hingga 5 -12 hari (rata2 7 hari).

Gejala klinis penyakit jembrana pada sapi bali antara lain; 

1. Demam berkisar 41- 42 C 

2. Stomatitis ditandai dengan radang mulut ulseratif , sehingga hewan akan hipersalivasi atau keluar air liur yang berlebihan.

3. Pembesaran limpoglandula 

4. Keringat darah

https://youtu.be/hZc1iB0yFv8

                                          

        Pencegahan dan pengendalian penyakit jembrana adalah dengan cara melakukan vaksinansi jembrana rutin pada sapi bali dan dilakukan pengendalian vektor lalat , caplak pada sapi . vektor tersebut berperan penting dalam perpindahan virus antar ternak. Setiap ternak yang akan masuk kesuatu wilayah harus memiliki surat keterangan kesehatan hewan. 





Sunday, February 28, 2021

INSEMINASI BUATAN

 INSEMINASI BUATAN


Inseminasi Buatan / IB adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoon. Potensi terpendam yang dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik, apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak betina (Hafez, 1993).



Hasil Inseminasi Buatan pada peternak kecamatan Tualang Siak Riau

Namun dalam perkembangan lebih lanjut, program IB tidak hanya mencakup pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi betina, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan/ternak betina, bimbingan dan penyuluhan pada peternak. Dengan demikian pengertian IB menjadi lebih luas yang mencakup aspek reproduksi dan pemuliaan, sehingga istilahnya menjadi artificial breeding (perkawinan buatan). Tujuan dari IB itu sendiri adalah sebagai satu alat yang ampuh yang diciptakan manusia untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak secara kuantitatif dan kualitatif (Toelihere, 1985).

            Pelaksanaan teknik inseminasi buatan pada hewan mamalia merupakan perakitan beberapa teknologi yaitu teknologi penampungan semen dan penanganannya (Frandon, 1992).

            Aplikasi IB memiliki keuntungan dan kerugiannya. Keuntungan IB diantaranya menghemat biaya pemeliharaan pejantan, mencegah terjadinya kawin sedarah, dapat mengatur jarak kelahiran ternak, semen beku dapat tahan beberapa tahun kemudian dan menghindari penularan penyakit kelamin (Salisbury dan Demark, 1985).


DAFTAR PUSTAKA

 

Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hafez, E.S.E. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction in

Farm Animals. 6th Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. pp. 424-439.

 

Salisbury, G.W dan Van Demark N. L.. 1985. Fisiologi Reproduksi dan IB pada sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Toelihere, M.R. 1985. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Universitas Indonesia.

Saturday, February 27, 2021

Infestasi Toxocara dan Zoonosis

Infestasi Toxocara dan Zoonosis 


Toxocara canis / T. canis merupakan ascaridida yang umum menginfeksi anjing. Ini merupakan salah satu parasit yang penting pada hewan tersebut, dan terutama sangat penting pada anak anjing. Infeksi kongenital dari Toxocara canis merupakan hal yang biasa terjadi pada anak anjing (Levine, 1994). Cacing Toxocara canis hidup di usus halus hospes (Subronto, 2006). Infestasi  T. canis pada hewan dan manusia disebut toxocariasis. T. canis pada anjing muda dapat melalui infeksi langsung, infeksi intra-uterus, infeksi transmamaria dan infeksi induk pascakelahiran.

Gejala klinis pada anjing yang terinfeksi T. canis antara lain :

  • Lethargia atau kelemahan
  • Ekspresi muka tampak sayu,
  • mata berair,
  • mukosa mata maupun mulutnya tampak mucat
  • anoreksia.
  • Pada hewan muda tidak jarang gejala konvulsi ditemukan akibat rangsangan syaraf pusat oleh toksin cacing.
  • Migrasi larva juga menyebabkan batuk, dispnoea dan adanya radang paru ringan (verminous penumonia). Hewan yang mengalami infeksi cacing yang berat dapat menunjukkan gejala kekurusan,
  •  Bulu kusam. (Subronto, 2006).

 


Telur Toxocara canis

Dokumentasi Pribadi


T canis merupakan salah satu cacing Nematoda yang bersifat zoonosis. Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Manusia dapat menderita toxocariasis karena menelan telur infektif yang terdapat dalam feses anjing, kucing, dan tanah yang terkontaminasi. Selanjutnya, larva akan menetas dan bermigrasi menembus jaringan atau organ tubuh yang bisa menyebabkan visceral larval migrans dan Ocular larval migrans.

Toxocara canis Dewasa

Dokumentasi Pribadi

Potensi bahaya infestasi T. canis pada manusia yaitu visceral larval migrans dan pada infeksi yang berat Ocular larval migrans dapat mengakibatkan kebutaan pada manusia. Maka pemilik hewan harus melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian secara terus menerus. Pemberian anticacing atau anthelmintik 3 bulan sekali. Kotoran hewan jangan dibuang sembarangan tempat apalagi dibuang ke selokan atau ke sungai, disarankan kotoran hewan untuk dikubur di tanah untuk memutus siklus hidup dari cacing tersebut.

 


  

Friday, February 26, 2021

DOKTER HEWAN

                                                                                    DOKTER HEWAN


                         http://il101.ilearning.me/2017/10/10/membuat-logo-dokter-hewan/


        Veterinary  berarti  Veteriner. Menurut  UU No.41 Tahun  2014 ,perubahan  terhadap  UU No  6 tahun  1967 dan UU no  18 tahun  2009 tentang  Peternakan dan  kesehatan hewan menerangkan  bahwa Veteriner adalah segala urusan yang berkaitan dengan Hewan, Produk Hewan, dan Penyakit Hewan. Untuk  mengawasi  Terkait  hal  diatas  diperlukan Dokter  Hewan.

           Dokter Hewan adalah orang yang memiliki profesi di bidang kedokteran hewan dan kewenangan . Medik Veteriner dalam melaksanakan pelayanan Kesehatan Hewan (UU  41 tahun  2014.  Dokter Hewan  dalam  menjalankan profesinya  dilindungi  oleh  Otoritas  Veteriner . Dalam pengambilan keputusan tertinggi berkaitan dengan  veteriner harus melibatkan keprofesionalan Dokter Hewan dan mengerahkan semua lini kemampuan profesi. (PP  no  3 tahun  2017 ttg  otoritas  Veteriner .

           Setelah kita lihat pengertian diatas  kita semakin  mengetahui  dan menyadari  betapa  kehadiran  Dokter  Hewan (Drh /Vet ) ditangah  masyarakat. Tugas  dokter  hewan  tidak  hanya   mencegah  dan mengobati  hewan  sakit . Lebih  daripada  itu  dokter  hewan  dalam  kompetensinya tentang Kesehatan  Masyarakat  Veteriner(Kesmavet).

            Kesmavet adalah  seluruh usaha masyarakat yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh seni dan ilmu kedokteran hewan yang diterapkan untuk mencegah penyakit, melindungi kehidupan, dan mempromosikan kesejahteraan dan efisiensi manusia. 

         Telur, Daging, Ikan  , Susu dan  produk  ikutannya  sebelum  dikomsumsi  oleh  manusia  haruslah  diawasi  oleh  Vet, agar  tidak  terjangkit  penyakit  zoonosis. Zoonosis merupakan  penyakit  yang  dapat  menular  dari  hewan  ke manusia  atau  sebaliknya .Penularan  zoonosis  ini  tidak  hanya melaui memakan pangan hewan yang  terjangkit zoonosis atau  dikenal  dengan  foodborne  disease, namun bisa juga  melaui  kontak  langsung  atau  kontak  tidak  langsung untuk  itu sudah  menjadi  tugas  kami  (read :Vet) mengedukasi  masyarakat  terkait  penyakit  zoonosis . Menurut WHO atau organisasi  kesehatan  dunianya menyatakan  70% penyakit  manusia  berasal dari hewan. Berbagai penyebab /etiologi penyakit  zoonosis seperti Virus  , bakteri, jamur  ,prion , helmint/cacing, Dan protozoa. Dari etiologi  tersebut sudah  ditemukan  vaksinnya  misalkan  rabies  leptosiposis, avian  influenza, newcastle disease, dll. 

        Untuk  penyakit  zoonosis  yang  telah  Ada vaksinasi  , disinilah  diharapkan  kesadaran  masyarakat  yang  memelihara  hewan  agar  melakukan  vaksinasi  hewan  secara  rutin  ke  Vet . Untuk  penyakit  yang zoonosis  lainnya dilakukan  pencegahan, terapi  dan  penanggulangan  terhadap  hewan  yang  terjangkit .

             Kompetensi  Drh  berikutnya  adalah  dibidang Medik  Reproduksi. REPRODUKSI merupakan perkembangbiakan  suatu  makhluk  hidup, dimulai  sejak  bertemunya  sel  ovum dan  Sel  Spermatozoa menjadi  zigot, bunting  dan  diakhiri  dengan  kelahiran  anak. (Hardjopranjoto, 1995). REPRODUKSI  adalah  bagian  terpenting  dalam  mengembangbiakan  ternak. Begitu  banyak  penyakit  dan  gangguan  Reproduksi  pada  hewan  yang  membutuhkan  dokter  hewan agar  hewan  tersebut  bisa bunting. Misalkan  Corpus  Luteum Persisten (CLP) pada sapi, pada kasus  ini  hewan  tidak  akan  mengalami  estrus /birahi (anestrus) dikarenakan  gangguan  pelepasan  Prostaglandin  F2 alfa yang  dihasilkan  oleh ENDOMETRIUM (Lapisan  Uterus) , Cysta  Folikel  pada  sapi  , kasus  ini hewan  estrus  trus  menerus  dalam  satu  siklus  estrus.dan penyakit  Reproduksi lainnya  , ini  smua  melibatkan  profesi  dokter  hewan  . Daging  sapi  akan  cukup  jika REPRODUKSI sapi  baik, telur akan  cukup  jika  Reproduksi  unggas  baik. Jika  Reproduksi  hewan  tidak  dikendalikan  dengan  baik  akan  berimbas  pada eksistensi  hewan , Dan hasl  tersebut  akan  berdampak  pada pemenuhan  protein  hewani. Sebagaimana  kita  ketahui  hewan  adalah  penyumbang  protein  terbesar  pada manusia.

       Selanjutanya  adalah  medik  konservasi .Medik Konservasi adalah penerapan Medik Veteriner dalam penyelenggaraan Kesehatan Hewan dibidang konservasi Satwa Liar (UU  no  41 tahun  2014). Harimau  sumatera, gajah  sumatera, badak, Orang  hutan dan hewan  konservasi  lainnya berada  diambang  kepunahan, dan harus  dijaga  kelestariannya.

        Akhir  tulisan  ini  , mengingatkan  kepada  masyarakat . Dokter  Hewan  memiliki  motto  "manusia  mriga  satwa  sewaka " berarti  mensejahterkaan manusia melalui  kesejahteran hewan ". Manusia akan sejahtera  jika hewan  sejahtera, manusia  akan  sehat  jika  hewan  sehat.  Kami  Dokter  hewan  sangat  bersyukur  karena  Allah  memberikan  kesempatan Kami menjadi  Dokter  Hewan  , yang  dengan  profesi  ini  kami  mengabdi  untuk kesejahteraan  , kehidupan  manusia  yang  lebih  baik. Semoga  dengan  profesi  ini  menjadi  amal  ibadah  kami .


Drh. KHAIRUL  RIZAL

Medik  Veteriner 


Thursday, February 25, 2021

Infestasi Tungau Telinga Pada Kucing

 Infestasi Tungau Telinga Pada Kucing


Gambar 1. Otodectes  cynotis dan Telur Otodectes  cynotis

http://linwoodanimalclinic.blogspot.com/2012/01/

Infestasi tungau telinga pada kucing merupakan salah satu penyebab otitis atau peradangan telinga pada kucing.  Bowman dkk., (2002) menyatakan Otodectes  cynotis merupakan  penyebab  paling  umum  atau  sebesar  50% - 84%  terjadinya   otitis   eksterna   pada   kucing  (Kartini dkk., 2017). Otodectes cynotis merupakan tungau yang hidup didalam saluran eksterna telinga. Tungau ini dapat menginfeksi kucing, anjing, dan karnivora lain seperti musang dan rubah

Tungau telinga dapat berpindah dari satu hewan ke hewan yang lainnya lewat kontak tubuh secara langsung. Tungau telinga betina cenderung menaruh telur-telurnya pada bulu di bagian telinga hewan, sehingga tungau telinga jantan akan selalu mencari tungau telinga betina pada bagian tersebut untuk melakukan perkembangbiakan (Rosenfeld, 2007).

Gejala klinis yang ditimbulkan akibat infestasi tungau ini yaitu hewan sering mengaruk pada daerah telinga, kotoran telinga berwarna hitam gelap dan menyebabkan otitis (Dhingra, 2008). Infestasi tungau pada telinga ini jika tidak dilakukan pengobatan dengan segera dapat diikuti infeksi skunder bakteri, sehingga gejala klinis yang dapat diamati adalah  Ear discharge / leleran dari telinga.  Kartini dkk., (2017) menyatakan bakteri kokus yang   umum  ditemukan  pada  kasus  otitis  eksterna  adalah  Staphylococcus intermedius atau  Staphylococcus intermedius, sedangkan bakteri  basil  yang  umum  ditemukan  Pseudomonas   sp .   Infeksi   bakteri   ditandai  dengan  adanya  cairan  purulen pada  saluran  telinga.   


  .   
     Gambar 2. Ear discharge / leleran dari telinga pada kasus otitis

Dokumentasi Pribadi

Pemeriksaan mikroskopis diperlukan untuk mengidentifikasi tungau telinga. Pemeriksaan dengan cara Ear mites di swab bagian telinga menggunakan cotton swab kemudian dipaparkan pada objek gelas dan diteteskan larutan Kalium Hidroksida (KOH) 10%. Kemudian diamati di bawah mikroskop pada pembesaran 40x.

Gambar .  Otodectes  cynotis

Dokumentasi Pribadi

Penularan  Otodectes  cynotis  dapat  terjadi  melalui  kontak  langsung. Perlu dipertimbangkan oleh pet owner untuk tidak menempatkan hewan yang sakit dengan hewan yang sehat. Pengendalian dan pencegahan infestasi tungau hewan, pet owner harus rutin memeriksakan kesehatan hewan kesayangannya pada Dokter Hewan. Pembersihan kandang dan sekitar kandang harus rutin dilakukan pembersihan. Perlu dipertimbangkan untuk dilakukan penyemprotan kandang dengan larutan anti ektoparasit untuk memberantas tungau atau ektoparasit yang ada disekitar kandang.


Daftar Pustaka. 


Bowman DD, Hendrix CM, Lindsay DS, Barr Sc. 2002. Feline Clicical Parasitology. Iowa (US): Iowa State University Press

Dhingra PL. 2008. Perbandingan Efektifitas Ofloksasin Topikal dengan Ofloksasin Kombinasi Steroid Topikal pada Otitis Eksterna Profunda di Makasr [skripsi]. Makasar (ID): Universitas Hasanudin.

Kartini, C., Efendi, A., Herlina, Putra, M. AR.  2017. Catatan Dokter Hewan Pemeriksaan  Fisik pada Mata, Telinga, Kardiorespirasi, dan Saluran Pencernaan. IPB Press

Rosenfeld, Andrew J. 2007 . Veterinary Medical Team Handbook . Iowa: Blackwell Publishing Professional .ISBN 978-0-7817-5759-1