Monday, February 22, 2021

Kutu Penghisap Darah Pada Kucing

 

Kutu Penghisap Darah Pada Kucing

    Kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang digemarin pada masyarakat sekarang ini. Namun untuk menjaga kucing peliharaan agar memiliki kesehatan yang baik, pemelihara kucing harus lebih memperhatikan makanan dan perawatan kucing tersebut jika tidak kucing akan mudah terserang penyakit .

    Salah satu kendala dalam pemeliharaan kucing yaitu adanya infestasi ektoparasit. Ektoparasit yang menginfestasi kucing menimbulkan dermatitis, anemia, gangguan hipersensitivitas, vektor, kesakitan, dan ketidaknyaman ( Salant dkk., 2013), dan ada yang bersifat zoonosis.

    Infestasi kutu pada hewan umumnya oleh kutu penggigit , yang termasuk dalam subordo Mallophaga , dan kutu penghisap yang termasuk subordo, Anoplura. Salah satu kutu yang termasuk kedalam subordo Anoplura adalah Linognanthus sp  (Subronto, 2006).

         

                     Gambar a. Anoplura eggs 


                    Morfologi kutu Felicola subrostratus

                      (Starkey dan Stewart 2015).

        Ektoparasit tersebut mempunyai kepentingan zoonosis dengan menyebarkan penyakit berbasis vektor (vector borne diseases). Agen penyakit yang disebarkan melalui vektor dapat berupa bakteri, protozoa, dan helminth. Ektoparasit pada hewan memunculkan gejala umum berupa gatal-gatal (pruritus), sering menggaruk, kebotakan (alopecia), lesu, dan anemia (ESCCAP 2012).

    Infestasi kutu penghisap pada kucing dapat menyebabkan gejala gatal, rasa ketidaknyamanan, dermatitis atau radang pada kulit, penurunan berat badan, kerontokan rambut bahkan alopecia, dan pada infeksi yang berat dapat mengakibatkan anemia . Infestasi kutu pada kucing selain dilakukan treatment atau terapi pada hewan , juga harus diperhatikan kebersihkan lingkungan hewan. Kadang dan sekitarnya harus dilakukan pembersihan dan penyemprotan dengan menggunakan antiektoparasit.


Penulis

Drh. Khairul Rizal

 

Sumber

[ESCCAP] European Scientific Counsel Companion Animal Parasites. 2012. Control of Ectoparasites in Doogs and Cats. Worcestershire (UK): ESCCAP

Salant H, Mumcuoglu KY, Baneth G. 2013. Ectoparasites in urban stray cats in Jerusalem, Israel: differences in infestation pattern of fleas, tick and permanent ectoparasites. Medical and Veterinary Entomology. 1-5. Doi: 10.1111/mve.12032.

Starkey L, Stewart J. 2015. Feline arthropods. Todays Veterinary Practice Journal.59-64

Subronto, 2006. Penyakit Infeksi Parasit Dan Mikroba Pada Anjing Dan Kucing. Yogyakarta : UGM Press


Sunday, February 21, 2021

Bahaya Ikan Aligator Mengancam Ekosistem Sungai di Jogja

Bahaya Ikan Aligator Mengancam Ekosistem 

Sungai di Jogja


Sungai di Jogja dalam Serangan Ikan Aligator dari Benua Amerika. Inilah judul berita yang di muat di Kumparan.com, pada tangga 18 Februari 2021.  Sejumlah pemancing di Jogja mendapatkan ikan jenis aligator ketika sedang memancing di perairan Jogja . Ikan aligator ini diduga berasal dari para pemelihara yang tidak kuat lagi memberi pakan, sehingga melepaskannya ke alam liar. Penemuan ikan aligator di perairan Jogja semakin sering seiring meningkatnya tren memelihara ikan hias akhir-akhir ini. (Anonimus, 2021).


Ikan aligator. Foto: Rully YK Grup Mancing Mania Jogjakarta

Ikan predator adalah ikan hias yang seperti pada umumnya yang hidup di air tawar. Yang membedakan adalah ikan ini memangsa hewan lain atau ikan yang lebih kecil untuk menjadi makanannya.  Banyak orang menyukai ikan predator dikarenakan tingkah laku ikan tersebut yang banyak bergerak diam atau santai namun tiba-tiba dapat berubah menjadi sangat gesit pada saat memangsa makanannya (Kevin j dkk., 2017).

Alligator gar adalah jenis ikan predator yang berasal dari Amerika Utara. Ikan ini banyak didatangkan ke berbagai negara sebagai bagian dari perdagangan akuarium. (Hasan v, 2020). Spesies ikan yang dimasukkan ke negara lain yang bukan habitat aslinya dikenal dengan sebutan ikan eksotik (Lowe dkk., 2010). Alligator gar memiliki ciri-ciri mulut seperti layaknya aligator dengan badan bulat memanjang. Ikan ini memiliki susunan gigi yang tajam. Ukuran maksimal pernah dilaporkan dapat mencapai 3 meter lebih. Sebagai ikan predator ganas yang habitat alaminya tidak berada di perairan Indonesia, maka kehadirannya dapat menimbulkan dampak ekologi serius. makanannya (Hasan v, 2020). 

Semakin banyaknya yang memelihara Ikan Alligator ini tentu akan menjadi ancaman serius bagi kerusakan ekosistem sungai yang ada ikan predator tersebut. Ikan ini dapat mencapai panjang 3 meter lebih. Semakin bertambah ukuran ikan ini, tidak memungkinkan lagi untuk dipelihara oleh pemilik sehingga melepas ke sungai. Perlu sosialisasi secara komprehensif dari berbagai lintas sektoral terkait ini untuk memberikan edukasi ke masyarakat luas terkait bahaya dan ancaman memelihara ikan predator ini.  Wargasasmita (2005) dampak introduksi ikan eksotik antara lain adalah penurunan kualitas lingkungan perairan tawar, gangguan terhadap komunitas ikan asli, penurunan kualitas materi genetik melalui hibridisasi, serta introduksi penyakit dan parasit ikan.

Memeilihara dan memperdagangkan ikan Alligator ini dilarang oleh pemerintah, hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 41/Permen-KP/2014.  Tentang larangan pemasukan jenis ikan berbahaya dari luar negeri ke dalam wilayah negara republik indonesia. Salah satu ikan yang dilarang yaitu Atractosteus spatula atau Alligator gar.

Adapaun ancaman pidana bagi yang melanggar diatur dengan jelas  pada UU 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan Pasal 88 yaitu setiap orang yang dengan sengaja memasukkan, mengeluarkan, mengadakan, mengedarkan, dan/atau memelihara ikan yang merugikan masyarakal, pembudidayaan ikan, sumberdaya ikan, dan/atau lingkungan sumberdaya ikan ke dalam dan/atau ke luar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

          Para pecinta ikan hias diharapkan dapat lebih bijak dalam memilih dan menentukan ikan yang dipelihara. Jangan sampai memelihara ikan yang dilarang oleh UU , apalagi memelihara kemudian saat tidak sanggup memberi makan ikan, dan melepaskan ikan tersebut ke sungai atau perairan lainnya yang jelas akan merusak tatatan ekosistem dan terkait dengan lingkungan. Ikan predator yang dilepas ke sungai tentu akan membahayakan ekositem sungai dikarenakan ikan tersebut dapat berkembangbaik dan menjadi predator ikan atau ewan yang berada di sungai tersebut.

 

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner 

Saturday, February 20, 2021

Chlamydiosis Pada Kucing dan Pencegahannya

 

 

Chlamydiosis Pada Kucing dan Pencegahannya

 

Chlamydiosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri obliglat selular chlamydophila. Mikroorganisme ini memiliki siklus hidup yang unik dan menyebabkan peradangan dari ringan sampai berat pada hewan dan manusia.

               Gejala pada penyakit chlamydiosis antara lain ; infeksi  mata unilateral umumnya berkembang menjadi bilateral. Dapat terjadi konjungtivitis intens dengan hiperemia ekstrem pada membran conjunctiva, blepharospasm, dan ketidaknyamanan pada mata. Demam sementara, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan dapat terjadi segera setelah infeksi, meskipun sebagian besar kucing tetap sehat dan terus makan.


Kucing terkena infeksi Chlamydiosis ( Dokumentasi Pribadi) 

Rekomendasi vaksinasi:

             Vaksinasi harus dipertimbangkan untuk kucing yang berisiko terpapar infeksi. Vaksinasi umumnya dimulai pada usia 8-10 minggu, dengan suntikan kedua 3-4 minggu kemudian. Booster tahunan direkomendasikan untuk kucing yang terus berisiko terpapar.

Dianogsa

               Feline chlamydiosis merupakan penyakit menular umumnya menyerang 9% pada kucing domestik yang belum di berikan vaksin. diagnosa dari feline chlamydiosis dapat ditegakkan melalui beberapa tahapan yaitu berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. 

               Pada kasus chanydiosis pada infeksi yang berat dapat mengakibatkan kebutaan,  pemilik hewan sedini mungkin harus menyadari bila ada gangguan pada hewannya. Bila hewan sakit, jangan pernah memberikan pengobatan tanpa resep dokter hewan. Segera membawa hewan peliharaan ke dokter hewan bila hewan sakit.

 

Daftar Pustaka

Sarah, I. P.  2009. Penanganan Feline Chlamydiosis Pada Kucing Di Rumah Sakit Hewan Dinas Peternakan Dan Kesehatan  Hewan Provinsi Sumatera Barat. Banda Aceh. Universitas Syiah Kuala

Tim Gruffydd-Jones .  2009  . Chlamydophila felis infection. ABCD guidelines on prevention and management. J Feline Med Surg 2009 Jul;11(7):605-9.

 

 

 

 

 

 

 

Friday, February 19, 2021

Piometra Pada Sapi dan Pencegahannya

 

             Piometra Pada Sapi dan Pencegahannya

 

            Involusi uteri adalah kembalinya ukuran dan fungsi uterus dalam kondisi normal seperti sebelum mengalami keuntingan (Hafez, 2000). Hajurka dkk., (2005) melaporkan bahwa secara normal waktu involusi uterus adalah 30-40 hari. Uterus yang normal harus berada dalam keadaan yang steril dan mampu membersihkan dirinya sendiri dari infeksi yang temporer secara efisien. Pada periode pascapartus, uterus sapi biasanya dicemari dengan bermacam-macam organisme. Secara alami, lingkungan uterus postpartum pada kebanyakan mamalia kembali steril setelah 25 hari (Anonimus, 2008).

Adanya kontaminasi menyebabkan terjadinya penyakit pada uterus (Bonnett dkk. 1991) Salah satu gangguan reproduksi karena patologis uterus adalah piometra. Piometra (endometritis kronik purulen) secara umum merupakan penyakit metoestral yang sebagian besar menyerang betina yang lebih tua, dapat disebabkan karena kontaminasi uterus, retensio sekundinarium, atau kontaminasi selama proses kelahiran. Penyakit kelamin menular seperti brucellosis, trichomoniasis dan vibriosis atau kuman non spesifik seperti golongan kokus, coli, dan piogenes dapat menyebabkan terjadinya piometra. Pada beberapa kasus, sapi dapat bunting dan kemudian fetus mati, terjadi proses maserasi  (Cuneo dkk., 2006).

Gejala pada hewan betina penderita piometra adalah tidak munculnya birahi dalam waktu yang lama atau anestrus, siklus birahi hilang karena adanya Corpus Luteum Persisten (Gustafsson dkk., 2004), dan adanya leleran (discharge) yang bisa dilihat di sekitar ekor dan vulva (Cuneo dkk., 2006).

 

Gambar 1. Adanya leleran (discharge) yang keluar dari organ kelamin.

 Video Piometra Pada Sapi Bali

Pencegahan kasus piometra pada sapi antara lain:

1.   1.  Lingkungan kandang yang bersih.

Ternak yang akan melahirkan harus ditempatkan lingkungan dan kandang yang bersih. Hal ini untuk mencegah terkontaminasi organ reproduksi saat ternak melahirkan.

2.      2. Penanganan Post Partus sapi yang tepat

Segera setelah sapi melahirkan, yang ditunggu peternak berikutnya adalah plasenta keluar dengan tepat. Normalnya plasenta keluar 8-12 jam setelah sapi melahirkan, apabila plasenta tidak keluar maka peternak harus mengabarkan petugas kesehatan hewan untuk melakukan penanganan, bila tidak dilakukan penanganan bisa mengakibatkan infeksi rahim seperti piometra. Induk yang melahirkan baik melahirkan normal dan dibantu maka perlu dilakukan treatment postpartum atau terapi setelah melahirkan, dan tindakan ini dilakukan oleh Dokter Hewan.

3.     3. Deteksi dini piometra pada sapi

Piometra pada sapi menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak. Perpanjangan birahi kembali setela melahirkan atau estrus kembali postpartus, pada infeksi yang berat dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat dapat mengakibatkan gangguan reproduksi permanen atau majir. Pentingnya peternak memahami tipe-tipe lendir reproduksi sangat penting, untuk deteksi dini piometra. Dalam hal ini perlu edukasi secara menyeluruh terkait gangguan reproduksi ternak kepada peternak. Penanganan piometra harus dilakukan oleh Dokter Hewan atau paramedik veteriner dibawah penyeliaan Dokter Hewan. Hal ini penting untuk memastikan piometra pada sapi benae-benar sudah tuntas. Salah satu indikator keberhasilan penanganan piometra adalah hewan birahi kembali dan dikawinkan dan bunting.




Penulis

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Siak. Riau

 


DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2008. Metritis and Endometritis. Merck & Co., Inc. Whitehouse Station, NJ, USA.

Bonnett, B.N., S.W. Martin, V.P. Gannon, R.B. Miller, and W.G. Etherington. 1991. Endometrial biopsy in Holstein–Friesian dairy cows-III. Bacteriological analysis and correlations with histological findings. Can. J. Vet. Res. 55:168-173.

Cuneo, S.P., C.S. Card, and E.J. Bicknell. 2006. Disease of Beef Cattle Associated with Post-calving and Breeding. Cattle Producer’s Library. London

Gustafsson, H., B. Kornmatitsuk, K. Konigsson, and H. Kindahl. 2004. Peripartum and early post partum in the cow- physiology and phatology. Publised in IVIS with the permission of the WBC. www.ivis.org.

Hafez, E.S.E. 2000. Reproduction in Farm Animal. Lea and Febiger. Philadelphia

Hajurka J, Macak V, Hura V. 2005. Influenceof Health Status of Reproductive Organs onUterine Involution in Dairy Cows.  Bull Vet Inst Pulawy 49 : 53-58.

 

Thursday, February 18, 2021

Keracunan Parasetmol Pada Kucing

 

Keracunan Parasetamol Pada Kucing

Paracetamol Poisoning in Cats

Drh. Khairul Rizal

Kucing dalam bahasa latinnya Felis silvestris catus, adalah sejenis karnivora. Kata "kucing" biasanya merujuk kepada "kucing" yang telah dijinakkan, tetapi bisa juga merujuk kepada "kucing besar" seperti singa, harimau, dan macan. Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6.000 tahun SM, dari kerangka kucing di Pulau Siprus. Orang Mesir Kuno dari 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung yang menyimpan hasil panen (Remington, 2007). Sekarang kucing banyak dipelihara masyarakat sebagai hewan kesayangan. Namun dalam pemeliharaan kucing harus memperhatikan kesehatan hewan dengan baik.

    Pemeliharaan hewan harus memperhatikan manajemen pakan yang baik, begitu pula dengan manjemen kesehatan. Untuk mencegah hewan terinfeksi penyakit, maka perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit infeksius maupun penyakit non- infeksius. Adapun upaya pencegahan seperti pemberian anticacing/ anthelmintik pada kucing harus diberikan rutin 3 bulan sekali. Vaksinasi pada kucing dapat dilakukan sejak usia 2 bulan dan diulangi bulan berikutnya, dan program booster/ vaksinasi ulangan tahunan, hal ini diperlukan untuk membentuk antibodi/ imunitas hewan yang baik , agar terlindungi dari infeksi penyakit.

            Ada beberapa kasus , saat pemilik kucing mengetahui kucingnya tidak selera makan dan menganggap kucingnya demam ( biasa pemilik kucing menggunakan punggung tangan untuk mengindentifikasi demam), padahal dengan tangan,  suhu bersifat subjektif. Faktanya suhu tubuh manusia berkisar 36º C, dan suhu tubuh kucing 37,6º C – 39,2º C. Hal ini tentu akan terasa hangat di tangan pemilik. Tak jarang yang memberikan "Paracetamol". Parasetamol dapat menyebabkan keracunan pada kucing.  

Acetaminofen atau lebih dikenal dengan nama parasetamol (4- Hydroxyacetanilide N-acetyl-p-aminophenol N- (4-Hydroxyphenyl) acetamide) adalah sintetis turunan non-opiat p-aminophenol. Sejak parasetamol banyak tersedia dan mudah diperoleh di toko obat maupun apotek, saat itu pula kejadian keracunan pada anjing dan kucing yang merupakan hewan peliharaan yang sangat populer mengalami peningkatan (Finco dkk 1975)

 

Pada kucing, dosis 10 mg/kg BB dapat menimbulkan gejala keracunan parasetamol. Hal tersebut disebabkan kucing kurang memiliki kemampuan memetabolisme parasetamol karena defisiensi enzim glukuronil transferase (Denzoin-Vulcano dkk.,  2013).

Gambar 1. Kucing keracunan parasetamol. Gejala sianosis / atau kebiruan karena hewan kurang oksigen. (panah). Gambar Dokumentasi Pribadi

Gejala klinis pada kucing adalah muntah, membrana mukosa pucat, temperatur tubuh menurun, pulsus lemah, edema subkutan pada wajah, enteritis hemoragika, anoreksi dan dehidrasi ( Rajesh dkk., 2017). Tremor, hipersalivasi, takikardia namun temperatur tubuh masih normal (Thompson, 2014). Gejala lain yang muncul menurut Bates (2016) adalah methemoglobinaemia, cyanosis, anaemia dan jaundice.



Gambar 2. Kucing keracunan parasetamol. Gejala Painful / hewan kesakitan dan oedema wajah. Gambar Dokumentasi Pribadi 

Pada kasus keracunan parasetamol pada kucing, penanganan terbaik adalah segera membawa ke Dokter Hewan terdekat. Apabila hewan sakit jangan memberikan obat-obatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Demikian tulisan ini, semoga bisa memberikan manfaat bagi pembaca.

 

Gejala keracunan parasetamol pada kucing

Penulis

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Siak. Riau

 


DAFTAR PUSTAKA

Bates N. 2016. Paracetamol poisoning. Companion Animal. 21(10): 576-580.

Denzoin-Vulcano LA, Confalonieri O, Franci R, Tapia M.O and Soraci AL. 2013. Efficacy of free glutathione and niosomal glutathione in the treatment of acetaminophen-induced hepatotoxicity in cats. Open Veterinary Journal. 3(1): 56-63.

Finco DR, Duncan JR, Schall W.D and Prasse KW. 1975. Acetaminophen toxicosis in the cat. J Am Vet Med Assoc. 166(5): 469-472.

Rajesh J, Mahendran K, Bhanuprakash A, Lekshmanan A, Choudhary S and Dixit S. 2017. Paracetamol toxicity in a cat. International Journal of Livestock Research. 7(2): 212-214.

Thompson A. 2012. Canine toxicology in the home environment. Vet Nursing J. 27(10): 380-382.