Ads

Senin, 22 Februari 2021

Kutu Penghisap Darah Pada Kucing

 

Kutu Penghisap Darah Pada Kucing

    Kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang digemarin pada masyarakat sekarang ini. Namun untuk menjaga kucing peliharaan agar memiliki kesehatan yang baik, pemelihara kucing harus lebih memperhatikan makanan dan perawatan kucing tersebut jika tidak kucing akan mudah terserang penyakit .

    Salah satu kendala dalam pemeliharaan kucing yaitu adanya infestasi ektoparasit. Ektoparasit yang menginfestasi kucing menimbulkan dermatitis, anemia, gangguan hipersensitivitas, vektor, kesakitan, dan ketidaknyaman ( Salant dkk., 2013), dan ada yang bersifat zoonosis.

    Infestasi kutu pada hewan umumnya oleh kutu penggigit , yang termasuk dalam subordo Mallophaga , dan kutu penghisap yang termasuk subordo, Anoplura. Salah satu kutu yang termasuk kedalam subordo Anoplura adalah Linognanthus sp  (Subronto, 2006).

         

                     Gambar a. Anoplura eggs 


                    Morfologi kutu Felicola subrostratus

                      (Starkey dan Stewart 2015).

        Ektoparasit tersebut mempunyai kepentingan zoonosis dengan menyebarkan penyakit berbasis vektor (vector borne diseases). Agen penyakit yang disebarkan melalui vektor dapat berupa bakteri, protozoa, dan helminth. Ektoparasit pada hewan memunculkan gejala umum berupa gatal-gatal (pruritus), sering menggaruk, kebotakan (alopecia), lesu, dan anemia (ESCCAP 2012).

    Infestasi kutu penghisap pada kucing dapat menyebabkan gejala gatal, rasa ketidaknyamanan, dermatitis atau radang pada kulit, penurunan berat badan, kerontokan rambut bahkan alopecia, dan pada infeksi yang berat dapat mengakibatkan anemia . Infestasi kutu pada kucing selain dilakukan treatment atau terapi pada hewan , juga harus diperhatikan kebersihkan lingkungan hewan. Kadang dan sekitarnya harus dilakukan pembersihan dan penyemprotan dengan menggunakan antiektoparasit.


Penulis

Drh. Khairul Rizal

 

Sumber

[ESCCAP] European Scientific Counsel Companion Animal Parasites. 2012. Control of Ectoparasites in Doogs and Cats. Worcestershire (UK): ESCCAP

Salant H, Mumcuoglu KY, Baneth G. 2013. Ectoparasites in urban stray cats in Jerusalem, Israel: differences in infestation pattern of fleas, tick and permanent ectoparasites. Medical and Veterinary Entomology. 1-5. Doi: 10.1111/mve.12032.

Starkey L, Stewart J. 2015. Feline arthropods. Todays Veterinary Practice Journal.59-64

Subronto, 2006. Penyakit Infeksi Parasit Dan Mikroba Pada Anjing Dan Kucing. Yogyakarta : UGM Press


Minggu, 21 Februari 2021

Bahaya Ikan Aligator Mengancam Ekosistem Sungai di Jogja

Bahaya Ikan Aligator Mengancam Ekosistem 

Sungai di Jogja


Sungai di Jogja dalam Serangan Ikan Aligator dari Benua Amerika. Inilah judul berita yang di muat di Kumparan.com, pada tangga 18 Februari 2021.  Sejumlah pemancing di Jogja mendapatkan ikan jenis aligator ketika sedang memancing di perairan Jogja . Ikan aligator ini diduga berasal dari para pemelihara yang tidak kuat lagi memberi pakan, sehingga melepaskannya ke alam liar. Penemuan ikan aligator di perairan Jogja semakin sering seiring meningkatnya tren memelihara ikan hias akhir-akhir ini. (Anonimus, 2021).


Ikan aligator. Foto: Rully YK Grup Mancing Mania Jogjakarta

Ikan predator adalah ikan hias yang seperti pada umumnya yang hidup di air tawar. Yang membedakan adalah ikan ini memangsa hewan lain atau ikan yang lebih kecil untuk menjadi makanannya.  Banyak orang menyukai ikan predator dikarenakan tingkah laku ikan tersebut yang banyak bergerak diam atau santai namun tiba-tiba dapat berubah menjadi sangat gesit pada saat memangsa makanannya (Kevin j dkk., 2017).

Alligator gar adalah jenis ikan predator yang berasal dari Amerika Utara. Ikan ini banyak didatangkan ke berbagai negara sebagai bagian dari perdagangan akuarium. (Hasan v, 2020). Spesies ikan yang dimasukkan ke negara lain yang bukan habitat aslinya dikenal dengan sebutan ikan eksotik (Lowe dkk., 2010). Alligator gar memiliki ciri-ciri mulut seperti layaknya aligator dengan badan bulat memanjang. Ikan ini memiliki susunan gigi yang tajam. Ukuran maksimal pernah dilaporkan dapat mencapai 3 meter lebih. Sebagai ikan predator ganas yang habitat alaminya tidak berada di perairan Indonesia, maka kehadirannya dapat menimbulkan dampak ekologi serius. makanannya (Hasan v, 2020). 

Semakin banyaknya yang memelihara Ikan Alligator ini tentu akan menjadi ancaman serius bagi kerusakan ekosistem sungai yang ada ikan predator tersebut. Ikan ini dapat mencapai panjang 3 meter lebih. Semakin bertambah ukuran ikan ini, tidak memungkinkan lagi untuk dipelihara oleh pemilik sehingga melepas ke sungai. Perlu sosialisasi secara komprehensif dari berbagai lintas sektoral terkait ini untuk memberikan edukasi ke masyarakat luas terkait bahaya dan ancaman memelihara ikan predator ini.  Wargasasmita (2005) dampak introduksi ikan eksotik antara lain adalah penurunan kualitas lingkungan perairan tawar, gangguan terhadap komunitas ikan asli, penurunan kualitas materi genetik melalui hibridisasi, serta introduksi penyakit dan parasit ikan.

Memeilihara dan memperdagangkan ikan Alligator ini dilarang oleh pemerintah, hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 41/Permen-KP/2014.  Tentang larangan pemasukan jenis ikan berbahaya dari luar negeri ke dalam wilayah negara republik indonesia. Salah satu ikan yang dilarang yaitu Atractosteus spatula atau Alligator gar.

Adapaun ancaman pidana bagi yang melanggar diatur dengan jelas  pada UU 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan Pasal 88 yaitu setiap orang yang dengan sengaja memasukkan, mengeluarkan, mengadakan, mengedarkan, dan/atau memelihara ikan yang merugikan masyarakal, pembudidayaan ikan, sumberdaya ikan, dan/atau lingkungan sumberdaya ikan ke dalam dan/atau ke luar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

          Para pecinta ikan hias diharapkan dapat lebih bijak dalam memilih dan menentukan ikan yang dipelihara. Jangan sampai memelihara ikan yang dilarang oleh UU , apalagi memelihara kemudian saat tidak sanggup memberi makan ikan, dan melepaskan ikan tersebut ke sungai atau perairan lainnya yang jelas akan merusak tatatan ekosistem dan terkait dengan lingkungan. Ikan predator yang dilepas ke sungai tentu akan membahayakan ekositem sungai dikarenakan ikan tersebut dapat berkembangbaik dan menjadi predator ikan atau ewan yang berada di sungai tersebut.

 

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner 

Sabtu, 20 Februari 2021

Chlamydiosis Pada Kucing dan Pencegahannya

 

 

Chlamydiosis Pada Kucing dan Pencegahannya

 

Chlamydiosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri obliglat selular chlamydophila. Mikroorganisme ini memiliki siklus hidup yang unik dan menyebabkan peradangan dari ringan sampai berat pada hewan dan manusia.

               Gejala pada penyakit chlamydiosis antara lain ; infeksi  mata unilateral umumnya berkembang menjadi bilateral. Dapat terjadi konjungtivitis intens dengan hiperemia ekstrem pada membran conjunctiva, blepharospasm, dan ketidaknyamanan pada mata. Demam sementara, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan dapat terjadi segera setelah infeksi, meskipun sebagian besar kucing tetap sehat dan terus makan.


Kucing terkena infeksi Chlamydiosis ( Dokumentasi Pribadi) 

Rekomendasi vaksinasi:

             Vaksinasi harus dipertimbangkan untuk kucing yang berisiko terpapar infeksi. Vaksinasi umumnya dimulai pada usia 8-10 minggu, dengan suntikan kedua 3-4 minggu kemudian. Booster tahunan direkomendasikan untuk kucing yang terus berisiko terpapar.

Dianogsa

               Feline chlamydiosis merupakan penyakit menular umumnya menyerang 9% pada kucing domestik yang belum di berikan vaksin. diagnosa dari feline chlamydiosis dapat ditegakkan melalui beberapa tahapan yaitu berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. 

               Pada kasus chanydiosis pada infeksi yang berat dapat mengakibatkan kebutaan,  pemilik hewan sedini mungkin harus menyadari bila ada gangguan pada hewannya. Bila hewan sakit, jangan pernah memberikan pengobatan tanpa resep dokter hewan. Segera membawa hewan peliharaan ke dokter hewan bila hewan sakit.

 

Daftar Pustaka

Sarah, I. P.  2009. Penanganan Feline Chlamydiosis Pada Kucing Di Rumah Sakit Hewan Dinas Peternakan Dan Kesehatan  Hewan Provinsi Sumatera Barat. Banda Aceh. Universitas Syiah Kuala

Tim Gruffydd-Jones .  2009  . Chlamydophila felis infection. ABCD guidelines on prevention and management. J Feline Med Surg 2009 Jul;11(7):605-9.

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 19 Februari 2021

Piometra Pada Sapi dan Pencegahannya

 

             Piometra Pada Sapi dan Pencegahannya

 

            Involusi uteri adalah kembalinya ukuran dan fungsi uterus dalam kondisi normal seperti sebelum mengalami keuntingan (Hafez, 2000). Hajurka dkk., (2005) melaporkan bahwa secara normal waktu involusi uterus adalah 30-40 hari. Uterus yang normal harus berada dalam keadaan yang steril dan mampu membersihkan dirinya sendiri dari infeksi yang temporer secara efisien. Pada periode pascapartus, uterus sapi biasanya dicemari dengan bermacam-macam organisme. Secara alami, lingkungan uterus postpartum pada kebanyakan mamalia kembali steril setelah 25 hari (Anonimus, 2008).

Adanya kontaminasi menyebabkan terjadinya penyakit pada uterus (Bonnett dkk. 1991) Salah satu gangguan reproduksi karena patologis uterus adalah piometra. Piometra (endometritis kronik purulen) secara umum merupakan penyakit metoestral yang sebagian besar menyerang betina yang lebih tua, dapat disebabkan karena kontaminasi uterus, retensio sekundinarium, atau kontaminasi selama proses kelahiran. Penyakit kelamin menular seperti brucellosis, trichomoniasis dan vibriosis atau kuman non spesifik seperti golongan kokus, coli, dan piogenes dapat menyebabkan terjadinya piometra. Pada beberapa kasus, sapi dapat bunting dan kemudian fetus mati, terjadi proses maserasi  (Cuneo dkk., 2006).

Gejala pada hewan betina penderita piometra adalah tidak munculnya birahi dalam waktu yang lama atau anestrus, siklus birahi hilang karena adanya Corpus Luteum Persisten (Gustafsson dkk., 2004), dan adanya leleran (discharge) yang bisa dilihat di sekitar ekor dan vulva (Cuneo dkk., 2006).

 

Gambar 1. Adanya leleran (discharge) yang keluar dari organ kelamin.

 Video Piometra Pada Sapi Bali

Pencegahan kasus piometra pada sapi antara lain:

1.      Lingkungan kandang yang bersih.

Ternak yang akan melahirkan harus ditempatkan lingkungan dan kandang yang bersih. Hal ini untuk mencegah terkontaminasi organ reproduksi saat ternak melahirkan.

2.      Penanganan Post Partus sapi yang tepat

Segera setelah sapi melahirkan, yang ditunggu peternak berikutnya adalah plasenta keluar dengan tepat. Normalnya plasenta keluar 8-12 jam setelah sapi melahirkan, apabila plasenta tidak keluar maka peternak harus mengabarkan petugas kesehatan hewan untuk melakukan penanganan, bila tidak dilakukan penanganan bisa mengakibatkan infeksi rahim seperti piometra. Induk yang melahirkan baik melahirkan normal dan dibantu maka perlu dilakukan treatment postpartum atau terapi setelah melahirkan, dan tindakan ini dilakukan oleh Dokter Hewan.

3.      Deteksi dini piometra pada sapi

Piometra pada sapi menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak. Perpanjangan birahi kembali setela melahirkan atau estrus kembali postpartus, pada infeksi yang berat dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat dapat mengakibatkan gangguan reproduksi permanen atau majir. Pentingnya peternak memahami tipe-tipe lendir reproduksi sangat penting, untuk deteksi dini piometra. Dalam hal ini perlu edukasi secara menyeluruh terkait gangguan reproduksi ternak kepada peternak. Penanganan piometra harus dilakukan oleh Dokter Hewan atau paramedik veteriner dibawah penyeliaan Dokter Hewan. Hal ini penting untuk memastikan piometra pada sapi benae-benar sudah tuntas. Salah satu indikator keberhasilan penanganan piometra adalah hewan birahi kembali dan dikawinkan dan bunting.




Penulis

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Siak. Riau

 


DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2008. Metritis and Endometritis. Merck & Co., Inc. Whitehouse Station, NJ, USA.

Bonnett, B.N., S.W. Martin, V.P. Gannon, R.B. Miller, and W.G. Etherington. 1991. Endometrial biopsy in Holstein–Friesian dairy cows-III. Bacteriological analysis and correlations with histological findings. Can. J. Vet. Res. 55:168-173.

Cuneo, S.P., C.S. Card, and E.J. Bicknell. 2006. Disease of Beef Cattle Associated with Post-calving and Breeding. Cattle Producer’s Library. London

Gustafsson, H., B. Kornmatitsuk, K. Konigsson, and H. Kindahl. 2004. Peripartum and early post partum in the cow- physiology and phatology. Publised in IVIS with the permission of the WBC. www.ivis.org.

Hafez, E.S.E. 2000. Reproduction in Farm Animal. Lea and Febiger. Philadelphia

Hajurka J, Macak V, Hura V. 2005. Influenceof Health Status of Reproductive Organs onUterine Involution in Dairy Cows.  Bull Vet Inst Pulawy 49 : 53-58.

 

Kamis, 18 Februari 2021

Keracunan Parasetmol Pada Kucing

 

Keracunan Parasetamol Pada Kucing

Paracetamol Poisoning in Cats

Drh. Khairul Rizal

Kucing dalam bahasa latinnya Felis silvestris catus, adalah sejenis karnivora. Kata "kucing" biasanya merujuk kepada "kucing" yang telah dijinakkan, tetapi bisa juga merujuk kepada "kucing besar" seperti singa, harimau, dan macan. Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6.000 tahun SM, dari kerangka kucing di Pulau Siprus. Orang Mesir Kuno dari 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung yang menyimpan hasil panen (Remington, 2007). Sekarang kucing banyak dipelihara masyarakat sebagai hewan kesayangan. Namun dalam pemeliharaan kucing harus memperhatikan kesehatan hewan dengan baik.

    Pemeliharaan hewan harus memperhatikan manajemen pakan yang baik, begitu pula dengan manjemen kesehatan. Untuk mencegah hewan terinfeksi penyakit, maka perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit infeksius maupun penyakit non- infeksius. Adapun upaya pencegahan seperti pemberian anticacing/ anthelmintik pada kucing harus diberikan rutin 3 bulan sekali. Vaksinasi pada kucing dapat dilakukan sejak usia 2 bulan dan diulangi bulan berikutnya, dan program booster/ vaksinasi ulangan tahunan, hal ini diperlukan untuk membentuk antibodi/ imunitas hewan yang baik , agar terlindungi dari infeksi penyakit.

            Ada beberapa kasus , saat pemilik kucing mengetahui kucingnya tidak selera makan dan menganggap kucingnya demam ( biasa pemilik kucing menggunakan punggung tangan untuk mengindentifikasi demam), padahal dengan tangan,  suhu bersifat subjektif. Faktanya suhu tubuh manusia berkisar 36º C, dan suhu tubuh kucing 37,6º C – 39,2º C. Hal ini tentu akan terasa hangat di tangan pemilik. Tak jarang yang memberikan "Paracetamol". Parasetamol dapat menyebabkan keracunan pada kucing.  

Acetaminofen atau lebih dikenal dengan nama parasetamol (4- Hydroxyacetanilide N-acetyl-p-aminophenol N- (4-Hydroxyphenyl) acetamide) adalah sintetis turunan non-opiat p-aminophenol. Sejak parasetamol banyak tersedia dan mudah diperoleh di toko obat maupun apotek, saat itu pula kejadian keracunan pada anjing dan kucing yang merupakan hewan peliharaan yang sangat populer mengalami peningkatan (Finco dkk 1975)

 

Pada kucing, dosis 10 mg/kg BB dapat menimbulkan gejala keracunan parasetamol. Hal tersebut disebabkan kucing kurang memiliki kemampuan memetabolisme parasetamol karena defisiensi enzim glukuronil transferase (Denzoin-Vulcano dkk.,  2013).

Gambar 1. Kucing keracunan parasetamol. Gejala sianosis / atau kebiruan karena hewan kurang oksigen. (panah). Gambar Dokumentasi Pribadi

Gejala klinis pada kucing adalah muntah, membrana mukosa pucat, temperatur tubuh menurun, pulsus lemah, edema subkutan pada wajah, enteritis hemoragika, anoreksi dan dehidrasi ( Rajesh dkk., 2017). Tremor, hipersalivasi, takikardia namun temperatur tubuh masih normal (Thompson, 2014). Gejala lain yang muncul menurut Bates (2016) adalah methemoglobinaemia, cyanosis, anaemia dan jaundice.



Gambar 2. Kucing keracunan parasetamol. Gejala Painful / hewan kesakitan dan oedema wajah. Gambar Dokumentasi Pribadi 

Pada kasus keracunan parasetamol pada kucing, penanganan terbaik adalah segera membawa ke Dokter Hewan terdekat. Apabila hewan sakit jangan memberikan obat-obatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Demikian tulisan ini, semoga bisa memberikan manfaat bagi pembaca.

 

Gejala keracunan parasetamol pada kucing

Penulis

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Siak. Riau

 


DAFTAR PUSTAKA

Bates N. 2016. Paracetamol poisoning. Companion Animal. 21(10): 576-580.

Denzoin-Vulcano LA, Confalonieri O, Franci R, Tapia M.O and Soraci AL. 2013. Efficacy of free glutathione and niosomal glutathione in the treatment of acetaminophen-induced hepatotoxicity in cats. Open Veterinary Journal. 3(1): 56-63.

Finco DR, Duncan JR, Schall W.D and Prasse KW. 1975. Acetaminophen toxicosis in the cat. J Am Vet Med Assoc. 166(5): 469-472.

Rajesh J, Mahendran K, Bhanuprakash A, Lekshmanan A, Choudhary S and Dixit S. 2017. Paracetamol toxicity in a cat. International Journal of Livestock Research. 7(2): 212-214.

Thompson A. 2012. Canine toxicology in the home environment. Vet Nursing J. 27(10): 380-382.

 

Rabu, 17 Februari 2021

Jangan Lakukan Ini Pada Kasus Retensi Plasenta


Client Education.

Jangan Lakukan Ini Pada Kasus Retensi Plasenta

 Peternak adalah salah satu garda terdepan dalam menyediakan pangan asal hewan untuk konsumsi msayarkat. Pangan tersenbut antara lain, daging, susu, dan telur. Semakin bertambah populasi penduduk makan kebutuan akan pangan semakin meningkat, baik pangan asal tumbuhan maupun pangan asal hewan. Peternak sapi breeding / atau pembibitan, dalam usaha peternakannya tentu memiliki permasalahan- permasalahan. Permasalahan tersebut tentu ada yang bisa diatasi skala peternak dan tentu ada pula yang membutuhkan tenaga profesional dalam hal ini adalah Dokter Hewan / Petugas Kesehatan Hewan. 

Pada kesempatan kali ini kita akan bahas retensi plasenta pada sapi dan hal yang sering terjadi di lapangan terkait perlakuan peternak pada kasus retensi pasenta ini. Retensi plasenta merupakan salah satu gangguan reproduksi setelah melahirkan yang paling sering dikeluhkan oleh peternak.  Retensi plasenta adalah gangguan komplek yang ditandai dengan kegagalan pelepasan membrane fetus pada stadium membran fetus.

Gejala yang terlihat pada kasus retensio sekundinae adalah adanya plasenta yang menggantung diluar alat kelamin (Hardjopranjoto, 1995). Menurut Toelihere ,(1985) kontraksi serviks akan terhambat jika plasenta berada didalam serviks. Sekitar 75 sampai 80% sapi dengan retensio sekundinae tidak menunjukkan gejala sakit dan sekitar 20 sampai 25% memperlihatkan gejala-gejala metritis seperti anoreksia, depresi, suhu badan tinggi, Pulsus meningkat dan berat badan turun (Toelihere, 1985).


                                       Gambar 1. Retensi Plasenta Pada Sapi Bali


Pada kasus retensi plasenta ada beberapa hal sering dilakukan oleh peternak dan ini akan berakibat fatal bagi kinerja organ reproduksi, antara lain:

1.      Memberikan beban pada plasenta yang menggantung.

Peternak biasa meberikan beban seperti kayu, batu bata daln lain sebagainya pada plasenta yang menggantung, dengan harapan agar palsenta cepat bisa terlepas.  Perlakuan ini tidak dibenarkan sama sekali dikarenakan akan berakibat fatal seperti menggangu proses fisiologi reproduksi. Menurut Manan, ( 2002 ). Secara fisiologi  selaput fetus dikeluarkan dalam waktu 3-5 jam postpartus, apabila plasenta menetap lebih lama dari 8-12 jam sehingga disebut retensio sekundinae (retensi  plasenta).

Komplikasi berikutnya adalah sebagai jalan masukknya mikroorganisme kedalam saluran reproduksi , ini bisa mengakibatkan infeksi rahim post partum / infeksi rahim setelah melahirkan, seperti endometritis klinis atau pyometra.

 

2.      Melakukan penarikan plasenta oleh peternak

Pada kasus ini peternak melakukan penarikan plasenta sendiri , hal ini sangat tidak dibenarkan. Penarikan plasenta yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kompetensi dibidangnya, akan mengakibatkan kesalahan fatal dan menyebabkan infeksi pada rahim sapi dan hal ini  tentunya akan mengakibatkan menurunnya kinarja reproduksi ternak. Menurunnya kinerja reproduksi ternak diantaranya seperti, lamanya estrus  atau birahi kembali setelah sapi melahirkan.


                                             Gambar 2. Penarikan plasenta oleh peternak.

Retensi palsenta pada ternak harus mendapatkan penanganan dengan baik, pada kasus retensi plasenta , peternak dapat menempatkan ternak di kandang yang bersih dan sedapatmungkin mengurangi kontaminasi dengan feses atau kotoran di kandang, apabila plasenta atau ari-ari tidak keluar setelah 12 jam melahirkan segera menghubungi Dokter Hewan atau Petugas kesehatan hewan untuk mendapatkan penanganan terbaik.  Hanafi, (2011)  mengatakan Pada kasus tanpa komplikasi, angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 1-2%. Apabila ditangani dengan baik dan cepat, maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Pada kasus retensi lainnya kerugian peternak bersifat ekonomis karena produksi susu yang menurun

Pencegahan Retensi Plasenta.

Pencegahan retensi palsenta yang dapat dilakukan skala peternak seperti, memberikan asupan nutrisi pakan ternak yang seimbang. Hijauan pakan ternak 10% dari berat badan, kosentrat 1 % dari berat badan. Peternak harus memberikan vitamin dan mineral (seperti premiks dan sebagainya)  yang dicampurkann kedalam kosentrat setiap harinya.  Menurut Erb (1985) untuk mencegah retensio sekundinae dapat dilakukan dengan mencukupi energi, protein, Se, Vitamin D dan E dalam pakan.


Daftar Pustaka 

Erb HN. 1985. Reproductive Disorders. Journal of Dairy Science.

Hanafi. 2011. An Overview on Placental Retention in Farm Animals. Depatement of Animal Reproduction and A.I. Veterinary Devision, National Research Center, Cairo.

Manan D. 2002. Ilmu Kebidanan pada Ternak. Banda Aceh. Universitas Syiah Kuala Press.

Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Surabaya. Airlangga University Press.

Toelihere MR. 1985. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung. Angkasa press

         

Penulis

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Siak, Riau

Selasa, 16 Februari 2021

Scabies Penyakit Kulit Pada Hewan dan Zoonosis

 

Scabies Penyakit Kulit Pada Hewan dan Zoonosis

Scabies merupakan infeksi ektoparasit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes sp. Scabiosis disebabkan oleh tungau terkecil dari ordo Acarina, yaitu Sarcoptes scabei. Tungau betina berukuran 330-600 µm x 250-400 µm dan jantan berukuran 200-240 µm x 150-200 µm, mempunyai kaki pendek dan sepasang kaki ketiga dan keempat tidak tampak dari dorsal tubuhnya, biasanya hidup pada lapisan epidermis ( Gambar 1). ( Suronto, 2006). Scabies atau kudis adalah penyakit kulit yang gatal dan menular pada mamalia domestik maupun mamalia liar yang disebabkan oleh ektoparasit jenis tungau (mite) Sarcoptes scabiei, dengan berbagai varietas seperti pada kambing S scabiei var.caprae, pada domba S.scabiei var.ovis, pada kelinci S.scabiei var.cuniculi pada anjing S scabiei var. canis, pada manusia S.scabiei var.hominis dan pada babi S.scabiei var.suis. (Ririen N.W, 2009).




Gambar 1. Sarcoptes scabei. ( Dokumentasi Pribadi).

Daur hidup

Siklus hidup dimulai dari telur sampai menjadi dewasa berlangsung selama satu bulan. Tungau betina setelah 4-5 hari akan bertelur 4-5 hari pada terowongan kulit yang dibuat oleh tungau. Larva yang memiliki 6 kaki akan menetas dalam waktu 3-5 hari. Beberapa diantara larva tersebut akan meninggalkan terowongan dan berjalan pada permukaan kulit penderita, sedangkan yang lain akan tetap di terowongan atau di kantung- kantung di samping terowongan tersebut. Larva akan berubah menjadi nimfa stadium pertama, kemudian menjadi limfa stadium kedua di dalam terowongan kulit. Selanjutnya nimfa tersebut  akan berkembang menjadi tungau dewasa. Perkembangan tungau dari telur sampai dewasa berlangsung sekitar 17 hari. Tungau tersebut akan hidup dari 3-4 minggu dan akan menyebar dengan kontak langsung antara penderita dengan orang sekelilingnya. (Levine, 1994).

        

Gejala – gejala.

            Gejala klinis yang ditimbulkan akibat infestasi Sarcoptes scabiei hampir sama, yaitu gatal ± gatal, hewan menjadi tidak tenang, menggosok ± gosokkan tubuhnya ke dinding kandang dan akhirnya timbul peradangan kulit. Bentuk eritrema dan papula akan terlihat jelas pada daerah kulit yang tidak ditumbuhi bulu. Apabila kondisi tersebut tidak segera diobati, maka akan terjadi penebalan dan pelipatan kulit disertai dengan timbulnya kerak/keropeng. Gejala tersebut timbul kira ± kira dalam waktu tiga minggu pasca infestasi tungau atau sejak larva membuat terowongan di dalam kulit (Setiawan, 2016).




Gambar 2 . Anak kucing yang menderita scabies kronis. ( Dokumentasi Pribadi).

Dianogsis

            Pemeriksaan infeksi scabies pada hewan, selain dengan pemerikaan gejala klinis dengan adanya lesi dan keropengan pada penderita. Peneguhan dianogsis dapat dilakukan dengan  mikroskopis yaitu dengan scraping. Metode ini bertujuan untuk menemukan dan mengidentifikasi jenis parasit dengan memeriksa di bawah mikroskop.




        Gambar 3 . Sarcoptes scabei pada kerokan kulit kucing ( Dokumentasi Pribadi).

   Scabies pada kucing dapat dilihat di link youtube penulis berikut ini. Pembaca dapat melakukan subscribe secara gratis , mengaktifkan notifikasi agar mendapatkan pemberitahuan setiap video terbaru. 

https://youtu.be/DI4nB8Wp4cg

                                                                                              

Pencegahan

           Pada hewan pencegahan scabies dengan memperhatikan lalu lintas ternak. Hewan yang akan menuju ke tempat lainnya , hewan telah diperiksa kesehatan hewan oleh Dokter Hewan berwenang dan dibuktikan dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan ( SKKH). Apabila dalam suatu peternakan / koloni hewan terdapat hewan yang terinfeksi skabies segera dipisahkan dari kelompoknya dan dilakukan pengobatan secara menyeluruh.

            Pencegahan skabies pada manusia dapat dilakukan dengan cara menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah penggunaan barang – barang pederita secara bersama-sama. Pakaian, handuk dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan oleh penderita harus diisolasi dan dicuci dengan air panas . Pakaian dan barang-barang asal kain dianjurkan untuk disetrika sebelum digunakan . Sprai penderita harus sering diganti dengan yang baru maksimal tiga hari sekali . Benda-benda yang tidak dapat dicuci dengan air (bantal, guling, selimut) disarankan dimasukkan ke dalam kantung plastik selama tujuh hari, selanjutnya dicuci kering atau dijemur di bawah sinar matahari sambil dibolak batik minimal dua puluh menit sekali . Kebersihan tubuh dan lingkungan termasuk sanitasi serta pola hidup yang sehat akan mempercepat kesembuhan dan memutus siklus hidup S. scabiei (Wendel dan Rompalo, 2002) .

 

Penulis

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner , Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Siak . Riau

 

WRD Puskeswan Kandis gelar vaksinasi rabies

         Drh. Khairul Rizal sedang melaksanakan vaksinasi rabies pada HPR. SIAK (2019). World Rabies Day (WRD) merupakan hari rab...