Langsung ke konten utama

Jangan Lakukan Ini Pada Kasus Retensi Plasenta


Client Education.

Jangan Lakukan Ini Pada Kasus Retensi Plasenta

 Peternak adalah salah satu garda terdepan dalam menyediakan pangan asal hewan untuk konsumsi msayarkat. Pangan tersenbut antara lain, daging, susu, dan telur. Semakin bertambah populasi penduduk makan kebutuan akan pangan semakin meningkat, baik pangan asal tumbuhan maupun pangan asal hewan. Peternak sapi breeding / atau pembibitan, dalam usaha peternakannya tentu memiliki permasalahan- permasalahan. Permasalahan tersebut tentu ada yang bisa diatasi skala peternak dan tentu ada pula yang membutuhkan tenaga profesional dalam hal ini adalah Dokter Hewan / Petugas Kesehatan Hewan. 

Pada kesempatan kali ini kita akan bahas retensi plasenta pada sapi dan hal yang sering terjadi di lapangan terkait perlakuan peternak pada kasus retensi pasenta ini. Retensi plasenta merupakan salah satu gangguan reproduksi setelah melahirkan yang paling sering dikeluhkan oleh peternak.  Retensi plasenta adalah gangguan komplek yang ditandai dengan kegagalan pelepasan membrane fetus pada stadium membran fetus.

Gejala yang terlihat pada kasus retensio sekundinae adalah adanya plasenta yang menggantung diluar alat kelamin (Hardjopranjoto, 1995). Menurut Toelihere ,(1985) kontraksi serviks akan terhambat jika plasenta berada didalam serviks. Sekitar 75 sampai 80% sapi dengan retensio sekundinae tidak menunjukkan gejala sakit dan sekitar 20 sampai 25% memperlihatkan gejala-gejala metritis seperti anoreksia, depresi, suhu badan tinggi, Pulsus meningkat dan berat badan turun (Toelihere, 1985).


                                       Gambar 1. Retensi Plasenta Pada Sapi Bali


Pada kasus retensi plasenta ada beberapa hal sering dilakukan oleh peternak dan ini akan berakibat fatal bagi kinerja organ reproduksi, antara lain:

1.      Memberikan beban pada plasenta yang menggantung.

Peternak biasa meberikan beban seperti kayu, batu bata daln lain sebagainya pada plasenta yang menggantung, dengan harapan agar palsenta cepat bisa terlepas.  Perlakuan ini tidak dibenarkan sama sekali dikarenakan akan berakibat fatal seperti menggangu proses fisiologi reproduksi. Menurut Manan, ( 2002 ). Secara fisiologi  selaput fetus dikeluarkan dalam waktu 3-5 jam postpartus, apabila plasenta menetap lebih lama dari 8-12 jam sehingga disebut retensio sekundinae (retensi  plasenta).

Komplikasi berikutnya adalah sebagai jalan masukknya mikroorganisme kedalam saluran reproduksi , ini bisa mengakibatkan infeksi rahim post partum / infeksi rahim setelah melahirkan, seperti endometritis klinis atau pyometra.

 

2.      Melakukan penarikan plasenta oleh peternak

Pada kasus ini peternak melakukan penarikan plasenta sendiri , hal ini sangat tidak dibenarkan. Penarikan plasenta yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kompetensi dibidangnya, akan mengakibatkan kesalahan fatal dan menyebabkan infeksi pada rahim sapi dan hal ini  tentunya akan mengakibatkan menurunnya kinarja reproduksi ternak. Menurunnya kinerja reproduksi ternak diantaranya seperti, lamanya estrus  atau birahi kembali setelah sapi melahirkan.


                                             Gambar 2. Penarikan plasenta oleh peternak.

Retensi palsenta pada ternak harus mendapatkan penanganan dengan baik, pada kasus retensi plasenta , peternak dapat menempatkan ternak di kandang yang bersih dan sedapatmungkin mengurangi kontaminasi dengan feses atau kotoran di kandang, apabila plasenta atau ari-ari tidak keluar setelah 12 jam melahirkan segera menghubungi Dokter Hewan atau Petugas kesehatan hewan untuk mendapatkan penanganan terbaik.  Hanafi, (2011)  mengatakan Pada kasus tanpa komplikasi, angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 1-2%. Apabila ditangani dengan baik dan cepat, maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Pada kasus retensi lainnya kerugian peternak bersifat ekonomis karena produksi susu yang menurun

Pencegahan Retensi Plasenta.

Pencegahan retensi palsenta yang dapat dilakukan skala peternak seperti, memberikan asupan nutrisi pakan ternak yang seimbang. Hijauan pakan ternak 10% dari berat badan, kosentrat 1 % dari berat badan. Peternak harus memberikan vitamin dan mineral (seperti premiks dan sebagainya)  yang dicampurkann kedalam kosentrat setiap harinya.  Menurut Erb (1985) untuk mencegah retensio sekundinae dapat dilakukan dengan mencukupi energi, protein, Se, Vitamin D dan E dalam pakan.


Daftar Pustaka 

Erb HN. 1985. Reproductive Disorders. Journal of Dairy Science.

Hanafi. 2011. An Overview on Placental Retention in Farm Animals. Depatement of Animal Reproduction and A.I. Veterinary Devision, National Research Center, Cairo.

Manan D. 2002. Ilmu Kebidanan pada Ternak. Banda Aceh. Universitas Syiah Kuala Press.

Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Surabaya. Airlangga University Press.

Toelihere MR. 1985. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung. Angkasa press

         

Penulis

Drh. Khairul Rizal

Medik Veteriner

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Siak, Riau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampaPencegahannya

  Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampai Pencegahannya Leukositozoonosis merupakan penyakit protozoa yang menyerang darah ternak unggas, yang disebabkan oleh parasit Leucocytozoon sp. (Levine, 1985). Spesies Leucocytozoon yang menyerang ayam di Indonesia teridentifikasi Leucocytozoon caulleryi dan L.sabrazesi (Soekardono, 1983; Soekardono dan Partosoedjono, 1986). L. caulleryi disebarkan oleh vektor Culicoides arakawae (Soekardono, 1987). Kejadian Leucocytozoonosis cenderung bersifat musiman yang berhubungan erat dengan peningkatan populasi vektor serangga, terutama pada pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya (Tabbu, 2002). Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat tinggi, pada unggas muda menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Unggas dewasa juga bisa terinfeksi dengan menimbulkan gejala diare, lemah, penurunan produksi, penurunan daya tetas telur, bahkan bisa menimbulkan kematian.   Jenis unggas yang rentan terhadap penyakit Leucocytozoo...

Diare pada Pedet dan Penangannya

   Diare pada Pedet dan Penangannya Pedet merupakan sapi yang masih berumur 1-8 bulan. Pada rentangan umur tersebut, pedet mulai memasuki fase percepatan pertumbuhan, dimana pada fase ini sapi akan tumbuh dengan maksimal apabila didukung oleh pakan yang baik dan sesuai kebutuhan, lingkungan yang mendukung serta manajemen pemeliharaan yang baik (Tazkia, 2008). Penanganan yang tepat pada pedet maupun sapi muda akan menghasilkan sapi potong berkualitas baik pada ternak jantan maupun betina (Efend y dkk. , 2013). Penanganan pedet mulai dari lahir sangat diperlukan agar nantinya bisa mendapatkan sapi yang mempunyai produktivitas tinggi untuk menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Penanganan kesehatan perlu diperhatikan dengan baik, mengingat angka kematian pedet yang cukup tinggi pada empat bulan pertama setelah pedet lahir. Di daerah tropis, rata – rata persentase kematian pedet dibawah umur tiga bulan mencapai 20% bahkan bi...

Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera

  Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera. Delapan belas hari sudah berlalu di Jawa Barat, saatnya kembali ke bumi Lancang Kuning. Hari terakhir di Jawa Barat saya manfaatkan mengunjungi Sabahat di Bekasi.  ( Cerita mengenai terpilihnya menjadi peserta satu-satunya dari provinsi riau  untuk mengikuti bimbingan teknis tranfer embrio di Balai Embrio Ternak Cipelang 2019 akan diceritakan pada tulisan lainnya. )  Ini saatnya saya kembali ke rutinitas biasa mengabdi untuk negeri melalui salah satu profesi yang mulia di bumi ini, profesi dokter hewan.   Menurut data dari WHO yaitu organisasi kesehatan Dunia bahwa 70% penyakit manusia berasal dari hewan atau yang dikenal dengan Zoonosis. Dokter Hewan , kami memiliki motto "Manusya Mriga Satwa Sewaka" yang berarti mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui kesejahteraan hewan". Manusia akan sejahtera jikalau hewan tersebut sejahtera.   Dalam konteks kesejahteraan hewan dikenal dengan 5 prinsip kesej...