Langsung ke konten utama

Bursitis Infraspinatus Pada Kuda


Bursitis Infraspinatus

Bursitis infraspinatus merupakan radang pada bursa infraspinatus. Bursa ini merupakan tendo yang terdapat diantara tendo insertion m. infraspinatus bagian posterior dan tuberositas humeris lateralis bursa bagian posterior

v  Penyebab Bursitis Infraspinatus
Biasanya pada kasus bursitis infraspinatus ini terjadi disebabkan oleh trauma,jika trauma penetrasi terjadi maka akan menyebabkan infeksi pada rongga synovial dan jika trauma non penetrasi dapat menyebabkan peradangan lokal pada bursa.
Dan trauma ini bisa kerena pendaratan Kuda ketika melompat dan juga bisa disebabkan oleh kuda yang terlalu bekerja berat dan terkadang oleh pakaian kuda yang terlalu ketat dan biasanya kuda yang mengalami bursitis infraspinatus biasanya akan berdiri dengan kedaan yang pincang.
v  Hewan yang bisa menderita kasus bursitis infraspinatus
Biasanya kasus bursitis infraspinatus bisa terjadi pada kuda, karena kuda lebih banyak melakukan pendaratan setelah melompat dan kuda lebih sering di pakaikan pakaian kuda yang terlalu ketat.

v  Penanganan kasus Bursitis Infraspinatus
Terapi pijat bisa membantu gejala dengan melepaskan stres poin di dekat tempat otot (tendon) terhubung ke tulang. Otot tersebut kemudian bekerja untuk meredakan ketegangan. Lembut. Lalu bahu dan kaki depan otot akan mendorong infraspinatus untuk kembali ke keadaan normal.



v  Cara mendiagnosa Bursitis Infraspinatus


Diagnose pada kasus bursitis infraspinatus bisa dengan cara mengangkat kaki muka lalu didorong ke medial, bila hewan memberontak atau kesakitan maka hewan tersebut positif menderita bursitis infraspinatus.





Daftar Pustaka

Hinchccliff, K.W ; Andris, J.K and Raymond, J.G. 2014. Equine Sports Medicine & Surgery Ed 2. Inggris : British Library Catalonguing In Publication data.

Johnston, DE. 1985. http://cal.vet.upenn.edu/projects/saortho/chapter_70/70mast.htm. Diakses pada tanggal 19 Mei 2014 Pukul 16.01 WIB.

Martin. 2013. http://www.horsecurator.com/equine-infraspinatus-muscle/. Diakses pada tanggal 19 Mai 2014 Pukul 16.02 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampaPencegahannya

  Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampai Pencegahannya Leukositozoonosis merupakan penyakit protozoa yang menyerang darah ternak unggas, yang disebabkan oleh parasit Leucocytozoon sp. (Levine, 1985). Spesies Leucocytozoon yang menyerang ayam di Indonesia teridentifikasi Leucocytozoon caulleryi dan L.sabrazesi (Soekardono, 1983; Soekardono dan Partosoedjono, 1986). L. caulleryi disebarkan oleh vektor Culicoides arakawae (Soekardono, 1987). Kejadian Leucocytozoonosis cenderung bersifat musiman yang berhubungan erat dengan peningkatan populasi vektor serangga, terutama pada pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya (Tabbu, 2002). Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat tinggi, pada unggas muda menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Unggas dewasa juga bisa terinfeksi dengan menimbulkan gejala diare, lemah, penurunan produksi, penurunan daya tetas telur, bahkan bisa menimbulkan kematian.   Jenis unggas yang rentan terhadap penyakit Leucocytozoo...

Diare pada Pedet dan Penangannya

   Diare pada Pedet dan Penangannya Pedet merupakan sapi yang masih berumur 1-8 bulan. Pada rentangan umur tersebut, pedet mulai memasuki fase percepatan pertumbuhan, dimana pada fase ini sapi akan tumbuh dengan maksimal apabila didukung oleh pakan yang baik dan sesuai kebutuhan, lingkungan yang mendukung serta manajemen pemeliharaan yang baik (Tazkia, 2008). Penanganan yang tepat pada pedet maupun sapi muda akan menghasilkan sapi potong berkualitas baik pada ternak jantan maupun betina (Efend y dkk. , 2013). Penanganan pedet mulai dari lahir sangat diperlukan agar nantinya bisa mendapatkan sapi yang mempunyai produktivitas tinggi untuk menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Penanganan kesehatan perlu diperhatikan dengan baik, mengingat angka kematian pedet yang cukup tinggi pada empat bulan pertama setelah pedet lahir. Di daerah tropis, rata – rata persentase kematian pedet dibawah umur tiga bulan mencapai 20% bahkan bi...

Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera

  Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera. Delapan belas hari sudah berlalu di Jawa Barat, saatnya kembali ke bumi Lancang Kuning. Hari terakhir di Jawa Barat saya manfaatkan mengunjungi Sabahat di Bekasi.  ( Cerita mengenai terpilihnya menjadi peserta satu-satunya dari provinsi riau  untuk mengikuti bimbingan teknis tranfer embrio di Balai Embrio Ternak Cipelang 2019 akan diceritakan pada tulisan lainnya. )  Ini saatnya saya kembali ke rutinitas biasa mengabdi untuk negeri melalui salah satu profesi yang mulia di bumi ini, profesi dokter hewan.   Menurut data dari WHO yaitu organisasi kesehatan Dunia bahwa 70% penyakit manusia berasal dari hewan atau yang dikenal dengan Zoonosis. Dokter Hewan , kami memiliki motto "Manusya Mriga Satwa Sewaka" yang berarti mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui kesejahteraan hewan". Manusia akan sejahtera jikalau hewan tersebut sejahtera.   Dalam konteks kesejahteraan hewan dikenal dengan 5 prinsip kesej...