Ads
Senin, 24 Agustus 2026
Layanan USG Ossa Vet Care
Minggu, 23 Agustus 2026
RABIES: ZOONOSIS YANG MEMATIKAN TAPI BISA DICEGAH
Oleh: drh. Khairul Rizal - OSSA VET CARE
Healthy Animals, Strong Community
1. APA ITU RABIES?
Rabies adalah penyakit infeksi virus akut pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh Rabies virus dari genus Lyssavirus. Penyakit ini termasuk zoonosis yaitu penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia.
Sekali gejala klinis muncul, rabies hampir 100% mematikan baik pada hewan maupun manusia. Tidak ada obatnya. Karena itulah rabies disebut "Silent Killer". Hewan terlihat sehat di awal, tapi begitu virus masuk ke otak, sudah terlambat.
2. BAGAIMANA PENULARANNYA?
Penularan utama: lewat gigitan, cakaran, atau jilatan pada luka terbuka dari hewan yang terinfeksi.
Hewan penular utama di Indonesia:
1. Anjing , 99% kasus rabies pada manusia berasal dari anjing
2. Kucing
3. Kera / Monyet
4. musang
Virus ada di dalam air liur hewan. Setelah masuk tubuh, virus merambat lewat saraf menuju otak. Masa inkubasi 2 minggu - 3 bulan, tergantung lokasi gigitan. Semakin dekat ke otak/kepala, semakin cepat.
3. TANDA-TANDA PADA HEWAN
Di OSSA VET CARE kami sering mengedukasi pemilik dengan istilah "FDF"
1. Furious / Ganas: Hewan jadi agresif, menggigit apa saja, air liur berlebih, takut air
2. Dumb / Lumpuh: Hewan jadi pendiam, rahang bawah turun, tidak bisa menelan, lumpuh
3. Fearless / Tidak Takut: Hewan liar jadi berani masuk pemukiman di siang hari
Catatan penting:
Tidak semua hewan rabies pasti ganas. Ada juga yang bentuk lumpuh dan sangat tenang.
4. TANDA-TANDA PADA MANUSIA
Tahap awal mirip flu: demam, nyeri kepala, mual.
Setelah 2-10 hari muncul gejala khas:
- Hidrofobia: takut air, kejang saat minum
- Fotofobia : takut cahaya
- Aerofobia: takut angin/udara
- Hiperaktif, halusinasi, gelisah*
- Lumpuh, koma, dan kematian*
Sekali gejala muncul = fatal.
5. KENAPA RABIES MEMATIKAN?
Karena virus langsung menyerang otak dan sumsum tulang belakang. Begitu masuk ke saraf, sistem imun + obat tidak bisa menjangkau. Otak bengkak, fungsi tubuh lumpuh total. WHO mencatat rabies membunuh ±59.000 orang/tahun di dunia. 95% kasus ada di Asia dan Afrika.
6. APA YANG HARUS DILAKUKAN JIKA DIGIGIT?
Ini protokol "CUCI - Lapor - Vaksin" dari Kemenkes :
I. CUCI LUKA 15 MENIT
Segera cuci dengan air mengalir + sabun. Ini menurunkan risiko 80%. Jangan ditutup rapat.
II. SEGERA KE FASKES / PUSKESMAS
Untuk dapat VAR = Vaksin Anti Rabies dan SAR = Serum Anti Rabies bila luka berat
III. LAPORKAN & AMATI HEWAN PENGGIGIT
Bawa hewan ke dokter hewan. Karantina 14 hari. Jika hewan mati, kepala dikirim untuk uji lab.
7. CARA PENCEGAHAN YANG PALING EFEKTIF
Rabies 100% bisa dicegah. Kuncinya 3 pilar:
1. VAKSINASI HEWAN 100%
Vaksin rabies pada anjing, kucing, kera setiap tahun. Ini cara paling murah dan efektif memutus rantai penularan. Program "Vaksinasi Massal" adalah kunci Indonesia bebas rabies 2030.
2. KONTROL POPULASI & KEPEMILIKAN BERTANGGUNG JAWAB
Anjing wajib dikandangkan, diberi kalung, tidak dibiarkan berkeliaran. Buang sampah baik agar tidak mengundang hewan liar.
3. EDUKASI MASYARAKAT
Jangan panik tapi jangan remehkan. Setiap gigitan harus dianggap rabies sampai terbukti tidak.
8. PESAN DARI OSSA VET CARE
Sebagai dokter hewan, saya drh. Khairul Rizal selalu bilang ke klien:
"Takut rabies itu wajar. Tapi yang lebih bahaya adalah diam dan tidak bertindak."
Rabies bukan kutukan. Rabies adalah masalah kesehatan masyarakat yang bisa kita kalahkan bersama dengan ilmu, vaksin, dan kesadaran.
Ingat 3 kunci: Vaksin hewanmu. Amankan lingkunganmu. Segera cuci dan berobat jika tergigit.
Healthy Animals = Strong Community.
Hewan yang divaksin = Keluarga yang aman.
KESIMPULAN
Rabies adalah zoonosis mematikan, tapi bukan tidak bisa dilawan.
Senjata kita hanya 2: PENCEGAHAN lewat VAKSIN dan PENANGANAN CEPAT saat tergigit.
Ossa Vet Care "Healthy Animals, Strong Community"
Ossa Vet Care, Praktik Dokter Hewan Berkomitmen Untuk Kesehatan Hewan dan Kesejahteraan Manusia
drh. Khairul Rizal
Saya, "drh. Khairul Rizal" dalah seorang dokter hewan yang percaya bahwa merawat hewan sama dengan merawat kehidupan dan masa depan masyarakat. Kecintaan saya terhadap dunia hewan dan kesehatan masyarakat tumbuh sejak awal. Bagi saya, hewan bukan hanya objek perawatan, tetapi bagian penting dari rantai kehidupan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan manusia. Dari keyakinan inilah saya memilih menempuh pendidikan kedokteran hewan dan mendedikasikan diri sebagai praktisi.
Selama berkarir, saya memegang 5 nilai utama:
Profesionalitas, Ilmu Pengetahuan, Kasih Sayang, Toleransi, dan Bermanfaat untuk Masyarakat Luas. Bagi saya, profesional artinya memberi layanan terbaik berbasis ilmu. Kasih sayang artinya memperlakukan setiap pasien dengan empati. Dan bermanfaat untuk masyarakat artinya setiap tindakan saya harus memberi dampak nyata, dari peternak kecil hingga kesehatan komunitas.
Berangkat dari nilai-nilai tersebut, saya mendirikan "OSSA VET CARE" dengan semangat:
"Healthy Animals, Strong Community"
Hewan Sehat, Masyarakat Kuat.
OSSA VET CARE hadir sebagai praktik dokter hewan yang mengutamakan pelayanan profesional, pendekatan ilmiah, dan hati yang peduli. Kami melayani semua jenis hewan, mulai dari ternak hingga hewan kesayangan, dengan tujuan akhir: mendukung kesehatan hewan dan memperkuat komunitas di sekitarnya.
Bagi saya, menjadi dokter hewan bukan sekadar profesi. Ini adalah pengabdian. Setiap nyawa yang saya rawat adalah amanah. Setiap pemilik yang saya temui adalah mitra. Dan setiap komunitas yang sehat adalah bukti bahwa ilmu dan kasih dapat berjalan beriringan.
Saya percaya, dengan ilmu yang terus diasah, pelayanan yang tulus, dan kolaborasi bersama masyarakat, kita bisa menciptakan lingkungan di mana hewan sehat, manusia sejahtera, dan negeri menjadi lebih kuat.
Salam hangat,
drh. Khairul Rizal
Founder OSSA VET CARE
ossavetcare@gmail.com
Minggu, 14 September 2025
Ovariohisterctomy / Steril Betina
Layanan Operasi/Bedah/ Surgery Steril betina atau Ovariohisterctomy
Syarat
1. Hewan sehat
2. Sudah vaksinasi lengkap
3. Usia minimal 6 bulan
4. Berat minimal 2 kg
5. Anticacing rutin
1. Ossa Vet Care Perawang
Jalan Raya Perawang Km 5 Kelurahan Perawang Siak Riau
2. Ossa Vet Care cab. Pekanbaru
Jalan Taman Karya Panam Pekanbaru Riau
Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampaPencegahannya
Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampai Pencegahannya
Leukositozoonosis merupakan penyakit protozoa yang menyerang darah ternak unggas, yang disebabkan oleh parasit Leucocytozoon sp. (Levine, 1985). Spesies Leucocytozoon yang menyerang ayam di Indonesia teridentifikasi Leucocytozoon caulleryi dan L.sabrazesi (Soekardono, 1983; Soekardono dan Partosoedjono, 1986). L. caulleryi disebarkan oleh vektor Culicoides arakawae (Soekardono, 1987). Kejadian Leucocytozoonosis cenderung bersifat musiman yang berhubungan erat dengan peningkatan populasi vektor serangga, terutama pada pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya (Tabbu, 2002).
Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat tinggi, pada unggas muda menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Unggas dewasa juga bisa terinfeksi dengan menimbulkan gejala diare, lemah, penurunan produksi, penurunan daya tetas telur, bahkan bisa menimbulkan kematian. Jenis unggas yang rentan terhadap penyakit Leucocytozoonosis adalah ayam, kalkun,angsa, itik dan burung liar .
Cara Penularan
Lalat penggigit seperti Simulium sp. dan Culicoides sp. berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit Leucocytozoonosis. Lalat hitam (Simulium sp.) biasanya berkembang biak pada air yang mengalir dan mencari makan pada siang hari, sedangkan serangga penggigit bersayap dua (Culicoides sp.) berkembang biak di dalam lumpur atau kotoran ayam dan menggigit pada malam hari. Lalat hitam (Simulium sp.) dan serangga penggigit bersayap dua (Culicoides sp.) bertindak sebagai reservoir penyakit tersebut selama suatu musim atau periode tertentu (Tabbu, 2002).
Gejala Klinis
Gejala yang terlihat umumnya adalah penurunan nafsu makan, haus, depresi, bulu kusut dan pucat. Ayam kehilangan keseimbangan, lemah, pernapasan cepat dan anemia. Kejadian penyakit berlangsung cepat. Ayam dapat mati atau sembuh dengan sendirinya. Angka kematian dapat mencapai 10-80% (Akoso, 1998). Leucocytozoonosis yang menyerang pada ayam yang sedang dalam pertumbuhan pada umumnya bersifat subklinik, sedangkan pada ayam yang sedang produksi akan menurunkan produksi telur secara drastis, dan membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk kembali ke tingkat produksi yang normal (Tabbu, 2000).
Dianogsa
Dianogsa penyakit dapat dilakukan dikukuhkan dengan menemukan gametosit parasit ini pada preparat ulas darah yang diwarnai dengan giemsa atau wright, tanda-tanda klinis atau perubahan-perubahanpasca mati dan mikroskopis (Ressang, 1983).
Gambaran Leukositozoon pada preparat ulas darah dengan pewarnaan Giemsa. Sampel merupakan darah ayam broiler umur 25 hari yang memiliki gejala Leukositozoonosis . Dokumentasi penulis semasa koasistensi Dokter hewan, ketika melakukan investigasi kematian ayam broiler di Aceh Besar.Dokumentasi Penulis. Drh. Khairul Rizal
Gambaran Skizon pada preparat histopatologi paru-paru. Sampel merupakan darah ayam broiler umur 25 hari yang memiliki gejala Leukositozoonosis . Dokumentasi penulis semasa koasistensi Dokter hewan, ketika melakukan investigasi kematian ayam broiler di Aceh Besar..
Selain skizon yang pada paru-paru , penulis pada investigasi tersebut juga membuat preparat organ timus, dan prankreas dan pada organ tersebut juga ditemukan skizon dan megaloskizon, namun penulis tidak mempublikasi pada artikel ini.
Pencegahan
Tindakan dalam pencegahan Leucocytozoonosis yang dianggap paling efektif adalah menekan atau mengeliminasi vektor biologis (insekta) yaitu lalat Culicoides sp. dan Simulium sp. Mengurangi larva serangga dapat dilakukan dengan spraying di sekitar kandang menggunakan insektisida. Genangan air dan semak belukar atau rumput dan tanaman yang tidak berguna disekitar kandang juga perlu dihindari, karena dapat menjadi tempat berkembangbiaknya serangga (Purwanto dkk, 2010). Peternak diharapkan melakukan program kebersihan dan sanitasi kandang dengan rutin. Ventilasi kandang harus diperhatikan dengan baik. Penyemprotan kandangan dan lingkungan kandanng dengan menggunakan bahan insektisida sangat dianjurkan 3 minggu sekali. Hewan yang sakit segera dipisahkan dengan hewan yang sehat.
Drh. Khairul Rizal
Medik Veteriner
Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Siak Riau.
Petugas Kesehatan Hewan Kecamatan Sungai Mandau.
Veterinary Content Creator.
*
Bahan Bacaan
Bahan Bacaan
Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius, Yogyakarta
Levine ND. 1995. Protozoology Veterinary. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press
Purwanto, Budi.,dkk. 2009. Leucocytozoonosis, dari Gejalanya sampai Penanganannya . Tersedia : http://www.majalahinfovet.com/2009/01/leucocytozoonosis-dari-gejalanyasampai.html.
Ressang, 1983. Patologi Khusus Veteriner. Denpassar
Soekardono S. 1983. Spesies Culicoides di Jawa Barat dan Hubungannya dengan Leukositozoonosis Ayam. Kumpulan Makalah Seminar Parasitologi Nasional II. Jakarta. Soekardono S. 1987. Culicoides (Diptera: Ceratopogonidae) di Sekitar Ayam dalam Kandang di Jawa Timur. Majalah Parasitologi Indonesia. 1 (2) : 35-41
Soekardono S, Partosoedjono S. (1986). Parasitparasit Ayam. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Tabbu, C.R. 2002. Penyakit Ayam dan Penaggulangannya – vol. 2. Yogyakarta : Kanisius
Sabtu, 27 Maret 2021
Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera
Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera.
Delapan belas hari sudah berlalu di Jawa Barat, saatnya kembali ke bumi Lancang Kuning. Hari terakhir di Jawa Barat saya manfaatkan mengunjungi Sabahat di Bekasi. (Cerita mengenai terpilihnya menjadi peserta satu-satunya dari provinsi riau untuk mengikuti bimbingan teknis tranfer embrio di Balai Embrio Ternak Cipelang 2019 akan diceritakan pada tulisan lainnya.) Ini saatnya saya kembali ke rutinitas biasa mengabdi untuk negeri melalui salah satu profesi yang mulia di bumi ini, profesi dokter hewan. Menurut data dari WHO yaitu organisasi kesehatan Dunia bahwa 70% penyakit manusia berasal dari hewan atau yang dikenal dengan Zoonosis.
Dokter Hewan , kami
memiliki motto "Manusya Mriga Satwa Sewaka" yang berarti mengabdi
untuk kesejahteraan manusia melalui kesejahteraan hewan". Manusia akan
sejahtera jikalau hewan tersebut sejahtera.
Dalam konteks kesejahteraan hewan dikenal dengan 5 prinsip kesejahteraan
hewan, yaitu 1. bebas dari rasa haus dan lapar. 2. Bebas dari rasa ketidak
nyamanan/ penyiksaan fisik 3. Bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit. 4.
Bebas untuk mengekspesikan perilaku alamiah
dan 5. Bebas dari ketakutan dan rasa tertekan. Inilah yang sama-sam kita
kenal dengan five freedom Animal Welfere.
Perjalanan dari Kota
Bekasi ke Bandara Halim Perdana Kusuma
saya tempuh dengan menggunakan mobil online , kira-kira 60 menit perjalanan. Seperti biasa memasuki bandara , hal pertama
yang kita lakukan tentu check in dan memasukkan barang ke bagasi, bawaan saya
standar saja, 1 koper dan 1 ransel. Setelah di ruang tunggu beberapa saat ,
tiba saatnya pesawat tujuan Bandara SSK Pekanbaru akan berangkat, segera saya
menuju pesawat.
X -Ray barang bawaan
adalah kewajiban yang mesti dilalui, karena ini adalah salah satu point'
penting dalam industri penerbangan, keselamatan penerbangan dan penumpang di
sini menjadi salah satu penentu, misal di pesawat tidak boleh ada bahan-bahan
yang memiliki resiko ledak tinggi, senjata tajam, bahan-bahan seperti Alkohol ,
Narkotika dan lain yang telah diatur dalam undang-undang penerbangan. Akhirnya giliran tas saya yang di X -Ray.
Lampu berbunyi, menandakan ada benda asing dalam tas tersebut.
"Bapak, boleh dibuka isi tas,
karena di sini dideteksi ada benda logam panjang ukurannya?". Kata petugas
bandara.
Saya pun menjawab. "Baik , Pak,
mungkin yang dimaksud Gun TE , mohon tinggi sebentar pak.
Bergegas saya
mengeluarkan isi ransel dan menunjukkan ke pihak bandara Gun Protector ,
kemudian mengeluarkan isinya ada Gun Transfer Embrio (TE), dan Plastik Sheet
TE. Saya menjelaskan kepihak bandara
bahwa saya Seorang Dokter Hewan (dengan menunjukkan Kartu keanggotaan
PDHI/Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), seraya menjelaskan bahwasanya Gun TE
ini berfungsi Untuk Memasukkan Embrio ke dalam Uterus /Rahim Sapi betina.) Gun
TE ini saya peroleh dari Balai embrio Ternak Cipelang, Bogor.
Saya juga menjelaskan
melalui GUN TE inilah Gatot Kaca (Nama dari sapi Belgian Blue) berhasil di
lahirkan oleh induk sapi di BET Cipelang. Nah , saya menambahkan Insya Allah
alat ini tidak membahayakan , ini alat medis yang digunakan untuk untuk
kemanjuan peternakan di Indonesia. Setelah mendengar penjelasan saya akhirnya
petugas mengerti, Gun TE berhasil masuk cabin pesawat.
Transfer Embrio ini
merupakan salah satu dari kemajuan teknologi reproduksi ternak, generasi
pertamanya Inseminasi Buatan yang sudah sangat populer di Nusantara ini. Transfer Embrio adalah usaha memasukkan
Embrio kedalam uterus hewan. Transfer embrio memiliki banyak keunggulan
diantaranya adalah mendapatkan Galur murni 100%, dan dengan demikian kita akan
mendapatkan bibit unggul dalam waktu yang singkat. Transfer embrio ini harus
dilakukan oleh seorang Dokter Hewan/Vet atau seseorang yang telah mendapatkan
sertifikat/keahlian dari instansi/ lembaga yang berwenang yang di akui Nasional
(Kementerian Pertanian), dan di bawah pengawasan Dokter Hewan.
Pukul 22.20 WIB. Pesawat
mendarat dengan sempurna di SSK Airport Pekanbaru, setelah dua jam penerbangan,
Syukur kepada Allah , atas kuasa Nya , Perjalanan lancar dan bisa berkumpul
kembali dengan keluarga dan melanjutkan pengabdian untuk kesejahteraan manusia
, melalui profesi dokter hewan.
Sekian.
Januari 2019
Drh. Khairul Rizal..
Dinas Perikanan dan Peternakan Kab. Siak. Riau
Kamis, 25 Maret 2021
Diare pada Pedet dan Penangannya
Diare pada Pedet dan Penangannya
Pedet merupakan sapi yang masih
berumur 1-8 bulan. Pada rentangan umur tersebut, pedet mulai memasuki fase
percepatan pertumbuhan, dimana pada fase ini sapi akan tumbuh dengan maksimal
apabila didukung oleh pakan yang baik dan sesuai kebutuhan, lingkungan yang
mendukung serta manajemen pemeliharaan yang baik (Tazkia, 2008).
Penanganan
yang tepat pada pedet maupun sapi muda akan menghasilkan sapi potong
berkualitas baik pada ternak jantan maupun betina (Efendy dkk., 2013). Penanganan pedet mulai
dari lahir sangat diperlukan agar nantinya bisa mendapatkan sapi yang mempunyai
produktivitas tinggi untuk menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi
(Syarief dan Sumoprastowo, 1985).
Penanganan kesehatan perlu diperhatikan dengan baik, mengingat angka kematian pedet yang cukup tinggi pada empat bulan pertama setelah pedet lahir. Di daerah tropis, rata – rata persentase kematian pedet dibawah umur tiga bulan mencapai 20% bahkan bisa mencapai 50% (Reksohadiprojo, 1984).
2.2. Diare pada Pedet
Diare pada pedet merupakan gejala
penyakit yang dapat mempengaruhi peningkatan kuantitas dan kualitas ternak,
peningkatan jaminan keamanan pangan hewani yang aman, sehat,utuh dan halal. Angka
kesakitan dan kematian pada anak sapi potong maupun sapi perah sangat beragam
tergantung pada faktor penyebabnya.Diare menjadi salah satu
masalah utama yang mengancam peternak karena sering menyerang pedet berumur
kurang dari 14 hari (Wudu dkk., 2008). Anak sapi penderita diare akan mengalami mengalami kekurangan cairan yang
mengandung garam mineral atau elektrolit sehingga terjadi dehidrasi dan
asidosis yang dapat menyebabkan kematian. Kerugian ekonomi yang dirasakan oleh
peternak akibat biaya obat dan tenaga pengobatan, kematian dan gangguan
pertumbuhan pada anak sapi yang masih bertahan hidup (Anderson dkk., 2003).
Faktor
Penyebab Diare
Diare pada
umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, dan protozoa. Bakteri yang
paling banyak menyebabkan diare adalah Escherichia
coli (E. coli).Menurut Anderson
dkk., 2003, kerugian
ekonomi yang dirasakan oleh peternak akibat biaya obat dan tenaga pengobatan,
kematian dan gangguan pertumbuhan pada anak sapi yang masih bertahan hidup.
Banyak faktor penyebab
diare pada pedet antara lain gangguan metabolik, penyakit yang disebabkan oleh
nutrisi (Payne, 1989), agen penyakit infeksius maupun non-infeksius (Ralston
dkk., 2003). Beberapa agen patogen penyebab diare yang banyak ditemukan adalah
bakteri: enterotoksigenik Escherichia
coli (Nagy dan Fekete, 2005), Salmonella
enterica (Berge dkk., 2006), Clostridium
perfringens (Quinn dkk., 2002), virus: Rotavirus
dan Coronavirus (Aich dkk., 2007;
Ghosh dkk., 2007), protozoa: Cryptosporidiumparvum
(Castro Hermida dkk., 2002). Diare biasanya disebabkan oleh jasad renik (Escheria Coli) yang secara umum
ditemukan pada sapi dan manusia ( Wacana, 1991).
Tindakan Pencegahan diare
Kemampuan
menekan angka mortalitas ternak dapat dilakukan melalui manajemen penanganan
penyakit, yaitu suatu tindakan berupa pencegahan, pengendalian dan
pemberantasan. Tindakan pencegahan dilakukan dengan cara mencegah masuknya bibit
penyakit dengan menjaga kebersihan kandang dan memperhatikan manajemen
pemberian pakan yang baik. Tindakan pengendalian dilakukan dengan menekan
kejadian penyakit serendah-rendahnya sehingga tidak menimbulkan dampak kerugian
ekonomi yang lebih besar, dan tindakan pemberantasan dilakukan dengan upaya
untuk menghilangkan agen penyebab penyakit (Putra, 2006).
Pengobatan Diare Pedet
Pengobatan diare pedet didasarkan pada causalis atau faktor penyebab daire tersebut. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui penyebab dari diare. Diare yang disebabkan oleh bakteri maka diberikan antibakteri atau antibiotik, diare yang disebabkan oleh protozoa maka diberikan antiprotoza, begitu pula bila disebabkan oleh cacing maka diberikan anticacing atau anthelmintik. Peternak tidak disarankan memberikan obat-obatan tanpa rekomendasi dari dokter hewan. Diare pada pedet juga bisa disebabkan oleh rumput atau hijauan yang terlalu muda, maka perlu diperhatikan dengan baik hijauan yang akan diberikan ke pedet.
Drh. Khairul Rizal
Rabu, 24 Maret 2021
Tuberculosis Sapi ( Bovine Tuberculosis)
Tuberculosis Sapi ( Bovine
Tuberculosis)
Mycobacterium bovis penyebab BTB
adalah anggota dari Mycobacterium tuberculosis kompleks. Kelompok yang juga
termasuk didalamnya ialah : Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium africanum
dan Mycobacterium microti. Mycobacterium bovis merupakan agen penyebab
tuberkulosis pada sapi sedangkan Mycobacterium tuberculosis pada manusia (Qamar
dan Azhar, 2013).
Kejadian Mycobacterium bovis penyebab
tuberkulosis sapi di Indonesia dilaporkan pertama kali menyerang sapi perah di
Semarang (Jawa Tengah) oleh Penning pada tahun 1906, yang pada saat itu
dilakukan uji tuberkulinasi terhadap 303 ekor sapi perah dan hasilnya ditemukan
3 sapi (0,9%) yang bereaksi positif (reaktor) terhadap tuberkulosis (Tarmudji
dan Supar, 2008).
Sapi merupakan inang sejati
Mycobacterium bovis. Selain sapi, ternak kambing dan babi juga rentan terhadap
serangan tuberkulosis. Sedangkan sejumlah hewan lain seperti kerbau, onta,
rusa, kuda, bison dan berbagai satwa liar baik yang hidup di alam bebas maupun
yang hidup terkurung di kebun binatang maupun hewan peliharaan seperti anjing
dan kucing, semuanya dapat terserang tuberkulosis. Diperkirakan bahwa kerugian
ekonomi akibat tuberkulosis adalah kehilangan 10-25% dari efisiensi produksi di
luar kematian hewan (OIE, 2009).
Cara Penularan
Penularan tuberkulosis sapi yang paling umum ada 2 cara yaitu
1.
Penularan
melalui saluran pernafasan (per Inhalasi ), dengan terhisapnya M.bovis yang
ditularkan bersama udara ketika penderita bernafas yang kemudian mencemari
udara dalam kandang (droplet infection ),oleh hewan sehat yang berada di
dekatnya.
2.
Penularan
melalui saluran cerna (per Indigesti), dengan termakannya M.bovisyang terdapat pada pakan dan air minum
tercemar oleh hewan sehat yang ada disekitar hewan tertular. (Manual Penyakit
Mamalia ISIKHNAS )
Tuberkulosis sapi yang merupakan
penyakit zoonosis . Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan
ke manusia atau sebaliknya. Maka, diharapkan masyarakat dapat melakukan upayaa
pencegahan menularnya penyakit ini ke manusia dengan cara berikut ini.
1. Menghindari kontak lanngsung dengan
hewan tertular
2. Masak daging sapi yang akan
dikonsumsi dengan matang
3. Hanya konsumsi susu hewan yang telah
dipasturisasi atau di steril atau dipanaskan atau olahan susu
4. Apabila ada ternak yang sakit jangan dilakukan pengobatan sendiri , segera hubung dokter hewan terdekat.
Mycobacterium bovis bisa menyebabkan
penyakit TB pada manusia yang dapat menyerang paru-paru, lymph nodes dan bagian
tubuh lainnya. Tidak semua orang yang terinfeksi Mycobacterium bovis menjadi
sakit. Orang yang terinfeksi tetapi tidak sakit disebut Infeksi TB laten. Orang
yang menderita infeksi TB laten tidak merasa sakit, tidak memiliki gejala
apapun dan tidak dapat menyebar TB kepada orang lain (CDC, 2011)
Drh. Khairul Rizal
Selasa, 23 Maret 2021
Peran Adjuvan dalam Vaksin
Peran Adjuvan dalam Vaksin
Kata adjuvan berasal dari kata adiuvare Latin; yang berarti untuk membantu atau bantuan, mengacu pada setiap materi yang meningkatkan seluler atau respon humoral terhadap antigen. Adjuvan adalah suatu bahan yang timbahkan ke vaksin untuk merangsang pembentukan imun tubuh. Adjuvan terdiri dari berbagai kelompok molekul ditentukan atau lebih formulasi komplek dan telah digunakan sejak awal abad 20 untuk membantu meningkatkan respon ini. Kebutuhan bahan pembantu timbul karena banyak vaksin menghasilkan respon imunologi yang rendah (Tizard, 1988).
Adjuvan digunakan untuk meningkatkan respon imun terhadap vaksin. formulasi dengan adjuvan dapat mengakibatkan onset awal imunitas, keseluruhan kekebalan yang lebih kuat respon, jenis tertentu dari kekebalan, atau durasi yang lebih lama dari kekebalan terhadap vaksin. Adjuvan dapat memiliki berbagai efek pada hasil vaksinasi (Gerdts, 2015).
Dalam berbagai keadaan, seperti vaksinasi dianggap perlu untuk meningkatkan reaksi kebal. Bahan yang dapat melakukan hal itu disebut adjuvan. Pelbagai macam senyawa telah digunakan sebagai adjuvan. Memperlambat derajat penyingkiran antigen mungkin saja dengan cara pertama-tama mencampurkannya dengan antigen tidak larut sehingga terbentuk “depo”. Contoh adjuvant pembentuk depo termasuk garam aluminium yang tidak larut seperti aluminium hidroksida, aluminium fosfat, aluminium kalium sulfat(alum). Bila antigen dicampur dengan salah satu garam ini disuntikkan pada hewan, granuloma yang kaya akn makrofag akan terbentuk dalam jaringan. Antigen yang berada di dalam granuloma ini perlahan-lahan bocor keluar ke dalam tubuh dan dengan demikian akan menyediakan rangsangan antigenik yang lama. Antigen yang biasanya bertahan hanya untuk beberapa hari dapat dipertahankan dalam tubuh beberapa minggu dengan cara tehnik ini. Adjuvan ini hanya mempengaruhi tanggap kebal primer dan sedikit pengaruhnya terhada tanggap kebal sekunder (Tizard, 1988).
https://www.kompasiana.com/dodisafari/604cc3c5d541df364658e354/peran-adjuvan-dalam-vaksin?page=allAdjuvan lain yang sama cara kerjanya adalah berilium sulfat, yang juga membentuk granuloma lokal dan merangsang pembentukan antibodi. Cara lain untuk membentuk depo ialah dengan menggabungkan antigen dalam emulsi air dalam minyak. Kehadiran minyak mendorong granuloma disekitar tempt suntikan sehingga antigen dilepaskan perlahan-lahan dari fase air dalam emulsi. Bila mikobakteri yang telah mati digabungkan kedalam emulsi air dalam minyak, campuran ini dikenal dengan adjuvant Freund lengkap (AFL), suatu adjuvant yang sangat kuat. Adjuvan Freund lengkap terbaik diberikan subkutan atau intradermal, dan peningkatan yang optimal diperoleh bila dosis antigen relative rendah. Zat terebut bertindak khusus untuk merangsang fungsi sel T dan karena itu hanya meningkatkan reaksi terhadap antigen tergantung timus. AFL meningkatkan produksi IgG melebihi IgM. AFL juga merangsang aktivitas makrofag, meningkatkan fagositosis, dan aktivitas sitotoksin (Tizard, 1988).
Pada dunia kedokteran veteriner, adjuvan biasanya diperlukan untuk memperkuat imunogenitas vaksin mati atau toxoid. Satu pengecualian dari ini adalah penggunaan saponin dalam anthrax, yang diperlukan untuk merubah keadaan di tempat penyuntikan sedemikian sehingga spora anthrax dapat bertunas.Saponin adjuvant juga digunakan sebagai adjuvant untuk penyakit mulut dan kuku. Adjuvan dengan bahan baku minyak biasanya tidak cocok digunakan pada hewan yang diperuntukkan untuk konsumsi manusia , karena minyak dapat merembes ke bidang fasial dan merusak daging. Adjuvan Freund lengkap sangat tidak dapat diterima pada hewan pangan, tidak saja karena minyak mineral, tetapi juga mikobakteri di dalam adjuvant akan mengakibatkan hewan tuerkulinpositif, atau suatu kemunduran kritis di suatu daerah di mana tuberkulosis sudah terkontrol. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa adjuvan Freund lengkap dapat bersifat karsinogenik. Sebegitu jauh adjuvant yang digunakan dalam vaksin komersial veteriner adalah yang memakai gel mineral seperti aluminium hidroksida, aluminium fosfa, atau aluminium kalium fosfat. Aluminium ini dihasilkan dalam bentuk suspense koloid yang ke dalamnya terserap antigen. Adjuvan ini mantap dalam penyimpanan, adjuvant ini tidak merembes atau membuat sebagian karkas tidak cocok untuk konsumsi. Adjuvan jenis ini dinggap paling cocok untuk hewan saat ini. Adjuvan yang berisi air tawas atau air dalam minyak , bekerja dengan jalan membentuk depo air berisi antigen yang tidak larut. Adalah biasanya bagi bahan asing ini merangsang pembentukan jaringan granulasi. Sel penghasil antibody bisaberkembang dalam jaringan granulasi ini dan dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam produksi antibodi (Tizard, 1988).
Tabel 1. Beberapa contoh adjuvan yang digunakan dalam kedokteran veteriner
|
Adjuvan |
Vaksin |
|
Aluminium hidroksida |
Leptospira |
|
|
Campylobacter |
|
|
Pasterurella |
|
|
Erysipelas |
|
|
Clostridia |
|
|
Anaplasma |
|
Aluminium fosfat |
Fusobacterium |
|
Air dalam minyak |
Penyakit mulut dan kuku Brusella 45/20 |
|
Saponin |
Penyakit mulut dan kuku Anthrax |
|
DEAE dextran |
Penyakit mulut dan kuku |
Contoh jenis adjuvant untuk
vaksin hewan
Berbagai macam adjuvant
telah berhasil
digunakan dalam vaksin komersial untuk hewan dan beberapa
teknologi baru sedang dalam pengembangan praklinis. Beberapa ini secara singkat dijelaskan di bawah ini
1.
Garam
mineral
Adjuvant berbasis Aluminium sudah dijelaskan dalam awal 20-an
oleh Glenny dkk. (Glenny dkk., 1926), dan sejak itu telah digunakan dalam
berbagai macam vaksin manusia ataupun hewan. Miliaran anak-anak dan hewan telah
diimunisasi dengan vaksin yang mengandung garam aluminium, sebagian besar
aluminium hidroksida atau aluminium fosfat. Garam berbasis Aluminium termasuk
tawas (Aluminium kalium sulfat), alhydrogel (aluminium hidroksida); Adju-Plus
(aluminium fosfat) dan Imject Alum (aluminium hidroksida dan magnesium
hidroksida). adjuvant aluminium berbasis aman, dan diketahui menginduksi respon
imun Th2, yang didominasi dimediasi oleh antibodi sehingga bermanfaat bagi
ekstraseluler patogen.
2. 2. Minyak
dalam air / air dalam minyak emulsi
Minyak dalam air / air dalam minyak
emulsi Emulsi seperti MF59, adjuvant Freund lengkap atau Emulsigen-D (MVP
Technologies) telah digunakan untuk waktu yang lama pada hewan, terutama pada
spesies ternak besar (Galliher-Beckley dkk, 2015;.. Lai dkk, 2015). Minyak
dalam air dan air dalam emulsi minyak mengandung mikron berukuran minyak atau
air tetesan, yang memberikan stabilitas dan penurunan viskositas. Beberapa
emulsi air-minyak di tersedia secara komersial untuk digunakan hewan, termasuk
adjuvan Montanide Seppic, Emulsigen-D, adjuvant Freund lengkap dan lain-lain (Bowden dkk., 2003).
3.
Saponin
Saponin adalah kelompok
glikosida umum ditemukan di tanaman. Berbagai saponin telah diuji dan
dikomersialisasikan untuk digunakan pada hewan, termasuk Quil-A (InvivoGen),
iscoms, iscomatrix (CSL), dan QS-21 (Cambridge Biotech Corp). Meskipun
mekanisme kerja tidak sepenuhnya dipahami, ini molekul telah terbukti menjadi
pemicu kuat baik sel T dan respon imun humoral
4.
Liposom
dan virosomes
Liposom pertama kali diperkenalkan lebih dari
40 tahun yang lalu dan dipromosikan sebagai adjuvant vaksin yang ampuh
(Cardella dkk., 1974. Potensi liposom
sebagian besar tergantung pada ukuran, polaritas, jumlah lapisan lipid, listrik
biaya, dan perakitan prosedur. Liposom telah digunakan dengan berbagai antigen
dalam berbagai spesies, termasuk vaksin eksperimental dan kandidat vaksin
klinis (Korsholm dkk., 2012). Virosomes terdiri partikel virus yang memiliki
antigen vaksin digabungkan atau dihubungkan dan menjadi partikulat yang membentuk diri
meningkatkan penyerapan vaksin oleh antigen presenting sel (Gerdts dkk., 2013).
Senin, 22 Maret 2021
Pengawasan Kesmavet Dalam Rantai Penyediaan Susu
Pengawasan Kesmavet Dalam
Rantai Penyediaan Susu
Susu adalah cairan
bergizi berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia. Susu adalah sumber gizi utama bagi bayi sebelum mereka dapat mencerna makanan padat. Susu
binatang (biasanya sapi) juga diolah menjadi berbagai produk seperti mentega,yogurt, es krim, keju, susu kental
manis, susu bubuk dan lain-lainnya untuk konsumsi manusia (Wikipedia,
2014).
Air susu
merupakan bahan makanan yang istimewa bagi manusia karena kelezatan dan komposisinya yang ideal selain air susu mengandung semua zat yang
dibutuhkan oleh tubuh, semua zat makanan yang terkandung didalam air susu dapat diserap oleh darah dan dimanfaatkan oleh tubuh. Didalam kehidupan sehari-hari, tidak semua
orang meminum air susu yang belum diolah. Hal ini disebabkan karena tidak terbiasa mencium aroma susu
segar (mentah), atau sama sekali tidak suka air susu dan sebagian lagi karena menganggap harga air susu mahal dibandingkan
kebutuhan sehari-hari lainnya. Dengan adanya teknologi pengolahan/pengawetan bahan makanan, maka hal
tersebut dapat diatasi, sehingga air susu beraroma enak dan disukai orang (Purwandini, 2012).
https://mymilk.com/milkeveryday/fun-fact/kelebihan-susu-sapi-holstein-dengan-susu-sapi-jersey
Dalam
SK Dirjen Peternakan No. 17 Tahun 1983, dijelaskan definisi susu adalah susu sapi
yang meliputi susu segar, susu murni, susu pasteurisasi, dan susu sterilisasi. Susu segar adalah susu murni yang tidak mengalami
proses pemanasan. Susu murni adalah cairan yang berasal dari ambing sapi sehat. Susu murni diperoleh
dengan cara pemerahan yang benar, tanpa mengurangi atau menambah sesuatu komponen atau bahan lain. Manusia mengonsumsi susu sapi dimulai sejak ribuan tahun sebelum masehi, ketika manusia
mulai mendomestikasi ternak penghasil susu untuk dikonsumsi hasilnya. Daerah yang memiliki peradaban
tinggi seperti Mesopotamia, Mesir, India, dan Yunani diduga sebagai daerah asal manusia pertama kali memelihara
sapi perah. Hal tersebut ditunjukkan dari berbagai bukti berupa sisa-sisa pahatan gambar sapi dan adanya kepercayaan
masyarakat setempat yang menganggap sapi sebagai ternak suci. Pada saat itu pula susu telah diolah menjadi
berbagai produk seperti mentega dan keju (Purwandini, 2012).
Dewasa
ini, susu memiliki banyak fungsi dan manfaat. Untuk umur produktif, susu
membantu pertumbuhan mereka. Sementara itu, untuk orang lanjut usia, susu
membantu menopang tulang agar tidak keropos. Susu secara alami mengandung nutrisi penting, seperti bermacam-macam vitamin, protein, kalsium, magnesium, fosfor,dan zinc, pendapat lain menambahkan bahwa susu
mengandung mineral dan lemak. Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan minum susu.
Sekarang banyak susu yang dikemas dalam bentuk yang unik. Tujuan dari ini agar
orang tertarik untuk membeli dan minum susu. Ada juga susu yang berbentuk
fermentasi (Wikipedia, 2014).
Pemasok susu terbesar di Indonesia berasal dari
pulau Jawa, dari 95 koperasi susu
di pulau Jawa, 45 berada
di Jawa Timur, 25 di Jawa Tengah dan 25 di Jawa Barat dengan produksi
1-1,2 juta liter/hari. Jumlah ini akan bertambah seiring dengan kenaikan harga
susu, karena adanya kesadaran para peternak dan pengusaha untuk
meningkatkan jumlah sapi perah sebagai lahan bisnis yang menguntungkan. Sedangkan Sumatera
Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sulawesi
Selatan, Riau, Lampung, Kalimantan Selatan, Bali, dan Gorontalo merupakan beberapa
daerah selain Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dijadikan daerah
pengembangan sentra produksi susu. “Bahkan ada beberapa daerah seperti
Kerinci bekerjasama dengan Kanada dalam hal pengadaan sapi perah,”
Kerinci bersedia membuka lahan sekitar 5000 hektar untuk penanaman tanaman
kentang, dengan kompensasi 2 ekor sapi perah untuk setiap hektar lahan
yang ditanami. Dalam hal ini, otonomi daerah diharapkan memberikan pengaruh
yang baik bagi peternak dalam mengambil keputusan yang tepat bagi usaha
ternaknya (Dirjen Peternakan, 2009). Pengembangan sentra produksi baru di luar
Jawa, diharapkan dapat meningkatkan populasi sapi perah di Indonesia.
Pelaksanaan program yang telah ditetapkan pemerintah secara konsisten, diperkirakan
dapat meningkatkan produksi susu domestik hingga 40% ditahun 2010, sedangkan
untuk mencukupi kebutuhan susu nasional hingga 100% diperlukan populasi
sapi sekitar 4 kali dari populasi yang ada sekarang (377.772 ekor), yaitu sekitar 2
juta ekor sapi. Pengembangan
sapi yang direncanakan tersebut
juga dirancang untuk dapat meningkatkan konsumsi susu 50 ml/hari/kapita atau
sekitar 25% dari konsumsi ideal 200 ml/hari/kapita mulai Tahun 2008 (Dirjen Peternakan,
2009).
Pada tahun 2010 populasi penduduk akan mencapai 240
juta (Pertumbuhan 1,49%
/tahun), 91,2 juta diantaranya adalah generasi muda usia wajib sekolah (<19tahun),
memerlukan susu idealnya 4,6 juta ton/tahun (konsumsi 1 gelas/hari). Sementara harga susu di
tingkat peternak pada saat ini telah mengalami peningkatkan dari harga
Rp.1.450,-/l menjadi Rp.1.600/l –Rp.1.900,-/l, bahkan di tingkat koperasi sudah
mencapai harga Rp.2.700/l, rata-rata Rp. 2.300,-/l. Perbedaan harga ini
tergantung dari kualitas susu yang dilihat dari kandungan TS (Total Solid) dan TPC ( Total Plate Count)
/ kandungan bakteri di dalam susu segar.
Sebagai contoh, saat ini di Jateng TS tertinggi yang telah dicapai peternak kabupaten Semarang
adalah 13,28 dan TPC antara
1,02 jt /ml sampai 5 juta /ml susu.
Menurut Dinas Peternakan Jateng, harga susu segar di Jawa Tengah lebih rendah jika
dibandingkan dengan harga susu segar di Jawa Timur dan Jawa Barat, (Jawa Timur dan
Jawa Barat harga susu segar rata-rata Rp.2.500,- Rp.3.500,- ). Salah satu penyebab
rendahnya harga susu di Jawa Tengah adalah kualitas susu yang masih rendah
dan belum adanya IPS (Industri Pengolah Susu) sendiri, sehingga untuk menuju
ke IPS yang terletak di Jawa Barat/ Jawa Timur membutuhkan ongkos
transportasi yang cukup mahal. Untuk
meningkatkan mutu dan keamanan susu segar dapat diupayakan melalui penerapan
teknologi pascapanen dan penetapan CCP (Critical Control Point)
pada tahap pemerahan, penanganan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan dingin dan transportasi. Penerapan
HACCP (Hazard Analysis Critical Control
Point) pada keseluruhan tahap proses produksi
merupakan usaha perbaikan
manajemen penanganan susu segar, bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk
pertanian dan menjamin keamanan pangan (SNI, 2002).
A.
Syarat Susu yang Baik
Saat masih berada di dalam kelenjar
susu, susu dinyatakan steril. Namun, apabila sudah terkena udara, susu sudah
tidak bisa dijamin kesterilannya. Adapun syarat susu yang baik meliputi
banyak faktor, seperti warna, rasa, bau, berat jenis, kekentalan, titik beku,
titik didih, dan tingkat keasaman. Warna susu bergantung pada beberapa
faktor seperti jenis ternak dan pakannya. Warna susu normal biasanya berkisar
dari putih kebiruan hingga kuning keemasan.
Warna putihnya merupakan hasil dispersi cahaya dari butiran-butiran lemak,
protein, dan mineral yang ada di dalam susu. Lemak dan beta karoten yang larut menciptakan warna
kuning, sedangkan apabila kandungan lemak dalam susu diambil, warna biru akan
muncul (Wikipedia, 2014).
Susu terasa sedikit manis dan asin
(gurih) yang disebabkan adanya kandungan gula laktosa dan garam mineral di
dalam susu. Rasa susu sendiri mudah sekali berubah bila terkena
benda-benda tertentu, misalnya makanan ternak penghasil susu, kerja enzim dalam tubuh ternak,
bahkan wadah tempat menampung susu yang dihasilkan nantinya. Bau susu umumnya sedap,
namun juga sangat mudah berubah bila terkena faktor di atas. Berat jenis air susu
adalah 1,028 kg/L. Penetapan berat jenis susu harus dilakukan 3 jam setelah
susu diperah, sebab berat jenis ini dapat berubah, dipengaruhi oleh perubahan kondisi lemak susu
ataupun karena gas di dalam susu. Viskositas susu biasanya berkisar antara 1,5
sampai 2 cP, yang dipengaruhi oleh bahan padat susu, lemak, serta
temperatur susu (Wikipedia, 2014).
Titik beku susu di Indonesia adalah
-0,520 °C, sedangkan titik didihnya adalah 100,16 °C. Titik didih dan titik
beku ini akan mengalami perubahan apabila dilakukan pemalsuan
susu dengan penambahan air yang terlalu banyak karena titik didih dan titik
beku air yang berbeda. Susu
segar mempunyai sifat amfoter, artinya dapat berada di antara sifat asam dan
sifat basa. Secara alami pH susu segar berkisar 6,5–6,7. Bila pH susu lebih rendah dari 6,5,
berarti terdapat kolostrum ataupun aktivitas bakteri (Wikipedia, 2014)
B.
Kondisi, Masalah dan Arah Pengembangan Mutu dan Keamanan Susu Segar
1.
Kondisi dan Masalah Susu Segar
Tujuan
peningkatan mutu susu adalah mempertahankan kesegaran dan keutuhan, serta mengurangi kerusakan susu
melalui perlakuan dan teknologi yang bertitik tolak pada penyebab kerusakan.
Indikator yang digunakan adalah standar mutu pada proses produksi, pelayanan hasil
produksi dan jasa pada tingkat biaya yang efektif dan optimum (Agriculture Canada, 1993). Menurut Buckle et al. (1987), kerusakan susu akibat aktivitas
mikroorganisme antara lain: (1) pengasaman dan penggumpalan karena fermentasi laktosa
menjadi asam laktat yang menyebabkan turunnya pH dan terjadinya penggumpalan
kasein; (2) berlendir seperti tali karena terjadinya pengentalan dan pembentukan lendir
akibat pengeluaran bahan seperti kapsul dan bergetah oleh beberapa jenis bakteri; dan (3) penggumpalan
susu yang timbul tanpa penurunan pH disebabkan oleh Bacillus cereus yang menghasilkan enzim yang mencerna lapisan tipis fosfolipid di sekitar
butir-butir itu menyatu membentuk suatu gumpalan yang timbul ke permukaan susu (Handerson,
1981).
Susu
mengandung bermacam-macam unsur dan zat makanan yang juga diperlukan bagi pertumbuhan bakteri. Susu
dalam ambing ternak yang sehat tak bebas hama dan mungkin mengandung sampai 500
sel/ml. Jika ambing tersebut sakit maka jumlahnya dapat meningkat lebih besar dari 20.000 sel/ml. Selain mikroorganisme yang biasanya ada dalam susu
dan ambing ada juga pencemaran yang ada dalam wadah saat pemerahan. Jenis-jenis micrococcus dan Corybacterium sering terdapat dalam susu yang baru diperah.
Pencemaran juga timbul dari sapi, alat pemerahan yang kurang bersih dan tempat-tempat penyimpanan (Sri Usmiati dan Abubakar, 2007). Setelah susu diperah, kandungan mikro organisme pada susu merupakan fungsi
dari umur susu yang menentukan tingkat perkembangan flora alam, penanganan susu yang menentukan jenis mikroorganisme yang terbawa dan suhu
penyimpanan yang menentukan kecepatan perkembangbiakan semua jenis mikroorganisme.
Sebagian besar susu dihasilkan dari
peternakan sapi perah rakyat dengan kepemilikan beberapa ekor sampai belasan
ekor, dengan modal yang rendah mengakibatkan
kandang, peralatan pemerahan, ketersediaan air sangat terbatas mengakibatkan rendahnya
mutu susu yang dihasilkan terutama TPC tinggi sehingga test alkohol
positif (Abubakar, 2009). Hal ini yang memicu susu dibuang karena penolakan susu
oleh IPS. Konsumsi susu segar paling besar adalah IPS, sehingga
persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh IPS harus yang di sepakati antara peternak melalui
koperasi dan IPS. Adanya sikap ”dengan cara sederhana dan seadanya seperti yang dilakukan setiap hari saja susu
yang dihasilkan dibeli oleh koperasi (laku dijual)”, anggapan
salah tersebut perlu diubah, diperbaiki dan disadarkan
kembali mengenai makna keamanan pangan yang akan berimbas terhadap peningkatan
pendapatan peternak (bonus harga atas mutu dan keamanan susu yang
baik).
1.
Arah
Pengembangan Keamanan pangan dan Standar Mutu
Susu
Dalam upaya meningkatkan ketahanan
pangan selain memperhatikan kuantitas,
kualitas susu perlu mendapat perhatian termasuk faktor keamanan produk yang
bersangkutan, antara lain bebas dari cemaran kimia, fisik dan mikrobiologis. Keamanan
pangan susu adalah interaksi antara status gizi, toksisitas
mikrobiologis dan kimiawi yang saling berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Kualitas
susu memperhatikan asas Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Keamanan pangan
susu ditentukan pada saat-saat panen, pemerahan susu, pengolahan produk
menjadi bahan pangan, serta ketika melalui rantai pemasaran. Suatu konsep
jaminan mutu yang khusus diterapkan untuk pangan dikenal dengan Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP)
yaitu system pengawasan
mutu industri pangan yang menjamin keamanan pangan dan mengukur bahaya atau
resiko yang mungkin timbul, serta menetapkan pengawasan tertentu
dalam usaha pengendalian mutu pada seluruh rantai produksi pangan (BSN,
2002).
UU Pangan No.7 Th 1996 telah ditetapkan
dan kemudian di jabarkan dalam PP No.
28 Th 2004. Tiga unsur penting yang digunakan dalam pembuatan UU tersebut adalah: 1) pangan
merupakan kebutuhan dasar manusia, 2) pangan yang aman, bermutu, bergizi dan
beragam merupakan prasyarat utama untuk kesehatan, dan 3) pangan sebagai
komoditas dagang memerlukan sistem perdagangan yang jujur dan bertanggung jawab.
Kesadaran terhadap mutu harus dimulai pada tahap sangat awal yaitu
gagasan konsep produk setelah persyaratan-persyaratan konsumen di definisikan
(Suratmono, 2005).
Persyaratan
mutu susu berdasarkan SNI
dan Direktorat Jenderal Peternakan atas nilai TPC dan cemaran mikrobiologis patogen tertera pada Tabel 1.
Indikator mutu susu sapi segar terkait
dengan: a) mutu fisik, yaitu warna, penampakan, kesegaran, konsistensi dll,
b) mutu kimia, yaitu kandungan gizi, aroma, rasa, bebas cemaran logam berat;
c) mutu biologi, yaitu bebas dari kontaminasi
mikroba patogen yang membahayakan kesehatan.
Tujuan peningkatan mutu susu adalah
mempertahankan kesegaran dan keutuhan,
serta mengurangi kerusakan pada susu melalui perlakuan dan teknologi yang bertitik
tolak pada penyebab kerusakan. Indikator yang di gunakan adalah standar mutu
pada proses produksi, pelayanan hasil produksi dan jasa pada tingkat biaya yang
efektif dan optimum (Agriculture Canada, 1993). Jaminan mutu merupakan kegiatan
yang terus menerus dilakukan agar fungsi mutu dapat dilakukan dengan baik
untuk membangun kepercayaan konsumen (Juran, 1989).
Jaminan mutu didasarkan pada aspek tangibles (hal-hal yang
dapat dirasakan dan diukur),
reliability (keandalan),
responsiveness (tanggap),
assurancy (rasa
aman dan percaya
diri) dan emphaty (keramah
tamahan) (NACMF, 1992). Menurut
Ishikawa (1990) jaminan mutu merupakan suatu jaminan bahwa produk akan dibeli
konsumen dengan penuh ke percayaan dan digunakan terus menerus dalam jangka
waktu yang lama dengan penuh keyakinan dan kepuasan. Tiga langkah utama
dalam peningkatan mutu yaitu, menetapkan standar, menilai kesesuaian atau kinerja
operasi (mengukur dan membandingkan dengan standar) dan melakukan tindakan
koreksi bila diperlukan.
2.
Pengembangan Sistem Mutu dan Keamanan Pangan Susu
1.
Sistem
Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP)
Tuntutan dan kepedulian konsumen
terhadap mutu dan keamanan pangan serta
kesehatan, mendorong terbitnya sistem HACCP. HACCP cukup penting dalam mengantisipasi
liberalisasi perdagangan, persaingan harga dan tuntutan kualitas yang semakin disadari
oleh masyarakat konsumen. Pada tahun 1993, Codex menetapkan HACCP sebagai a food safety management tools (Stevenson
and Bernard, 1995).
HACCP adalah suatu piranti untuk menilai
suatu bahaya spesifik dan menetapkan
sistem pengendalian yang di fokuskan pada pencegahan daripada pengujian
produk akhir. HACCP pada industri persusuan adalah karena bahanbahan yang
digunakan (baik bahan baku maupun bahan penolong) selama proses produksi
memiliki peluang terjadinya pencemaran yang dapat membahayakan konsumen.
Pencemaran ini dapat berupa pencemaran fisik (dari pekerja, sapi dan
lingkungan
misalnya logam, kaca, pasir, bulu/rambut), kimia (bahan tambahan, fungisida, insektisida,
pestisida, migrasi komponen plastik, logam beracun) maupun mikrobiologis
(bakteri, fungi, protozoa, cacing, ganggang).
Sistem HACCP sesuai dengan Codex terdiri dari tujuh
prinsip, yaitu: (1) mengidentifikasi
semua hazard dan
hazard analysis pada
rantai pangan dan menentukan
tindakan pencegahan, (2) menetapkan Critical Control Point (CCP),
(3) menetapkan
kriteria yang menunjukkan pengawasan pada CCP, (4) menetapkan prosedur untuk
memonitor setiap CCP,
(5) menetapkan tindakan apabila criteria yang ditetapkan untuk
mengawasi CCP tidak
sebagai mana mestinya, (6) verifikasi menggunakan informasi pendukung dan
pengujian untuk meyakinkan bahwa HACCP dapat dilaksanakan dan
(7) menetapkan cara pencatatan dan dokumentasi (Bauman, 1990).
Dalam proses produksi selalu ada tindak
pengawasan dalam menjamin keamanan
pangan. Ada dua tipe titik tindak pengawasan yaitu tindak yang dapat menjamin keamanan susu
sapi segar (food safety) dan
tindak yang hanya memperkecil
kemungkinan bahaya yang timbul akibat pencemaran pada susu sapi. Food safety yang disarankan
para ahli adalah secara konvensional yaitu Good
Manufacturing Practices (GMP), Good Distribution Practices (GDP), pengendalian higiene,
dan pengujian produk akhir. Sedangkan titik tindak untuk memperkecil bahaya yang
timbul yaitu dengan sistem HACCP.
HACCP bukan merupakan jaminan
keamanan pangan yang zero-risk,
tetapi dirancang untuk meminimumkan
risiko bahaya keamanan pangan dan sebagai alat manajemen
2.
Analisis
CCP (Critical
Control Point)
Proses Produksi Susu
Penetapan CCP melalui tahap analisis
bahaya, yaitu analisis risiko peluang kejadian yang menentukan apakah prosedur
tersebut memiliki bahaya signifikan atau tidak. Jenis bahaya meliputi kimia,
fisika dan biologis di dalam atau kondisi dari makanan dengan
potensi untuk menyebabkan dampak merugikan kesehatan. Kontaminasi kimia
terjadi pada tahap produksi, sampai produk akhir. Pengaruhnya terhadap konsumen
berjangka panjang (akut), misalnya bahan kimia yang dapat mencemari makanan:
deterjen, pestisida, herbisida, insektisida, nitrit, nitrat, migrasi komponen
plastik, residu antibiotika, aditif kimia dan logam berat beracun. Bahaya fisik,
berasal dari gelas, logam, batu, ranting, kayu, hama, pasir, rumput. Bahaya biologis
disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme seperti: bakteri, fungi, virus,
parasit, protozoa, ganggang dan toksin.
Pada prinsipnya analisis CCP berkaitan dengan dua
hal pokok yaitu: 1) bahan baku yaitu sapi hidup dan susu sapi, dan 2)
tahapan proses pemerahan, sehingga proses prapanen dan pascapanen sejak
pemerahan hingga pemasaran sangat menentukan mutu susu sapi.
Analisis penetapan CCP pada proses pemerahan
susu sapi adalah sebagai berikut
: Bahan baku, Sapi perah dan susu sapi terkontaminasi benda-benda asing dari tanah, kotoran,
kuman patogen/virus dalam tubuh ternak sejak dibawa dari kandang, dan tempat
pemerahan. Air terkontaminasi kuman patogen dan pembusuk, terjadi saat
pencucian ambing, memandikan sapi dan tangan pekerja. Tindakan
pengendaliannya: sapi harus bersih, kandang harus higienis, tangan
pekerja
harus bersih, pemerahan dilakukan secara benar, dan saniter, air pencuci harus bersih. Proses
pemerahan. Kontaminasi kuman patogen/virus, Penyebabnya: ambing kotor,
tangan pekerja kotor, pengeluaran susu kurang sempurna, menyebabkan
masih ada sisa susu tertinggal dan menyebabkan kontaminasi. Tindakan
pengendaliannya: ambing harus bersih, tangan pekerja harus bersih, dan
dibersihkan dengan air panas untuk menghilangkan sisa mikroba yang
tertinggal. Peralatan pemerahan dan penyaringan susu: Fisik susu kotor dan
terkontaminasi benda asing seperti tanah, sisa pakan/rumput, rambut, bulu dan kuku operator.
Penyebabnya: alat pemerah dan penyaring kotor, wadah/ can kotor, tangan
pekerja kotor. Tindakan pencegahannya: semua peralatan pemerahan dan
penyaringan harus bersih termasuk tangan pekerja.
Untuk dapat memproduksi susu segar yang bermutu dan
baik serta aman bagi
kesehatan, diperlukan adanya penerapan sistem jaminan mutu dan system manajemen lingkungan
yang mantap. maka dipandang ada tiga unsur utama yang terlibat dalam
pengamanan/pengendaliannya yaitu:
1. Sistem pengendalian yang
intensif berupa pengamanan dilakukan sejak praproduksi, hingga pemasaran (preharvest food safety program). Dalam pelaksanaannya sistem
pengamanan ditempuh melalui cara pengamatan (surveilance),
pemantauan (monitoring)
dan pemeriksaan (inspection)
terhadap setiap
mata rantai pengadaan susu sapi.
2. Pengendalian infrastruktur,
antara lain melalui
perbaikan perangkat keras, misalnya perbaikan/ renovasi kandang sapi,
3. Perangkat pendukung
adalah UU Pangan, UU Perlindungan Konsumen, Surat Keputusan Menteri
Pertanian dan Dirjen Peternakan yang berkaitan erat dengan produksi dan keamanan
susu sapi. Direktorat Kesmavet telah mencanangkan program keamanan pangan
produk ternak dengan membangun Siskesmavet dan Siskeswannas.
Beberapa program yang dapat diusulkan
kepada pemerintah dalam pemecahan
masalah keamanan pangan produk ternak khususnya susu sapi segar ditinjau dari aspek
pascapanen: (1) pendidikan, penelitian, mengembangkan dan membina aplikasi ilmu
dan teknologi pascapanen susu sapi, (2) menjaga ketersediaan susu sapi,
(3) melaksanakan pengaturan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan susu
sapi, (4) merencanakan dan melaksanakan program pencegahan masalah
persusuan, (5) membentuk sistem pengaturan distribusi produk susu sapi yang
efisien, (6) melaksanakan penyuluhan keamanan pangan susu sapi, (7) menjalin
kerjasama internasional di bidang: penelitian dan pengembangan teknologi
pascapanen, perdagangan, teknologi distribusi, teknologi pengelolaan
pangan susu, pencegahan dan penanggulangan masalah persusuan (Wiradarya,
2005).
Untuk itu perlu dilakukan penelitian dan pengembangan oleh
Litbang maupun perguruan Tinggi, secara terus menerus terhadap teknologi
penanganan dan pengolahan produk susu sapi. Hasil-hasil penelitian dan
pengembangan teknologi pascapanen produk ternak, khususnya penanganan dan
pengolahan susu serta model sistem HACCP harus didiseminasikan dan
dilakukan promosi kepada stakeholder,
pelaku bisnis dan lain-lain.
Teknik–teknik diseminasi yang dapat dilakukan berupa penerbitan jurnal, bulletin,
leafleat,
petunjuk teknis, seminar, penyuluhan, gelar teknologi dan lain sebagainya.
Penanganan dan pengolahan terpadu pada
susu khususnya pada industri pengolahan susu cukup luas, tetapi faktor keamanan pangan dan masalah
hieginis produk susu belum terbina dengan baik sehingga perlu adanya
reorientasi dan reaktualisasi penanganan kesmavet. Untuk itu diperlukan teknologi
penanganan dan pengolahan, sistem pengendalian yang intensif berupa
pengamanan sejak pra-produksi, hingga pemasaran (preharvest food safety
program), pengendalian infrastruktur dan penerapan
UU Pangan, UU Perlindungan
Konsumen dan Sk Menteri tentang produksi dan keamanan susu.
Drh. Khairul
Rizal
WRD Puskeswan Kandis gelar vaksinasi rabies
Drh. Khairul Rizal sedang melaksanakan vaksinasi rabies pada HPR. SIAK (2019). World Rabies Day (WRD) merupakan hari rab...
-
Leucocytozoonosis pada unggas, dari Gejalanya sampai Pencegahannya Leukositozoonosis merupakan penyakit protozoa yang menyerang darah ...
-
Diare pada Pedet dan Penangannya Pedet merupakan sapi yang masih berumur 1-8 bulan. Pada rentangan umur tersebut, pedet mulai memasuki...
-
Perjalanan Gun TE dari Pulau Jawa Ke Pulau Sumatera. Delapan belas hari sudah berlalu di Jawa Barat, saatnya kembali ke bumi Lancang Kunin...











